"Ini ungkapan publik yang punya kekecewaan mendalam, lalu diformulasikan seniman dengan baik," ujar Sukma saat berbincang dengan detikcom seusai pertunjukan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Kamis (6/4/2017) tengah malam.
Sukma mengatakan apa yang sudah dilakonkan oleh pemain Teater Gandrik, Yogyakarta, adalah bentuk ketidakadilan terhadap masyarakat. Terlebih hukum tidak lagi menjadi dua bilah mata pisau yang tajam ke atas maupun ke bawah.
![]() |
"Saya melihat yang digambarkan pentas ini memang sudah ada darurat keadilan. Publik merasakan keadilan terlihat semakin jauh. Dan seni ini membuat formalisasi yang menyentuh dengan kalimat," beber Sukma.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan sampai kegalauan ini (lakon 'Hakim Sarmin') membuat publik galau karena hukum yang tumpul," ungkapnya.
Selain Sukma, ikut menonton Menlu Retno Marsudi, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, hakim agung Syamsul Maarif, komisioner KY Farid Wajdi, hingga artis Titiek Puspa.
![]() |
Pertunjukan teater tersebut disutradarai oleh seniman kenamaan Djaduk Ferianto. Naskah ditulis oleh Agus Noor. 'Hakim Sarmin' melibatkan 13 pemeran dengan setting Rumah Sakit Jiwa Khusus Hakim 'Sumber Waras'.
Dalam pentas hampir tiga jam itu, 'Hakim Sarmin', yang diperankan Butet Kartaredjasa, melakukan revolusi pengadilan. Para hakim di dunia bersatu dan memimpin revolusi peradaban. Tapi apa lacur, para hakim itu malah masuk dalam alam pikirannya sendiri dan menilai masyarakat gila karena masyarakat tidak memahami putusan-putusan hakim. Tidak hanya itu, di internal hakim juga terjadi perpecahan, antara hakim yang waras dan hakim yang gila beneran. (edo/asp)













































