Sekolah Sukma Didik 30 Anak Keluarga Abu Sayyaf

Laporan dari Finlandia

Sekolah Sukma Didik 30 Anak Keluarga Abu Sayyaf

Sudrajat - detikNews
Jumat, 07 Apr 2017 10:47 WIB
Sekolah Sukma Didik 30 Anak Keluarga Abu Sayyaf
Hafid Abbas, Rerie Lestari Moerdijat, Surya Paloh, dan Juha Christensen Foto: Sudrajat/detikcom
Helsinki - Sebanyak 30 anak Suku Sulu, Filipina Selatan sejak tahun lalu mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah yang dikelola Yayasan Sukma Bangsa (YSB). Program ini merupakan bagian atau tindak lanjut dari pembebasan 10 sandera oleh kelompok milisi Abu Sayyaf pertengahan Maret 2016.

Informasi tersebut mengemuka dalam acara napak tilas di Konigstedt Manor (Government House) di Helsinki, Finlandia, pada Kamis 6 April 2017. Di gedung ini pada 2005 berlangsung perundingan damai antara perwakilan pemerintah RI dan para tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang difasilitasi mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari.

"Jadi, asal tahu saja ya. Sekolah Sukma tak cuma mendidik anak-anak Aceh tapi juga puluhan anak dari Filipina Selatan," kata anggota Komnas HAM Prof Hafid Abbas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu merupakan bagian dari diplomasi kebudayaan dalam upaya membebaskan WNI yang disandera Abu Sayyaf," imbuh Hafid.

Dalam perbincangan santai di salah satu ruangan gedung itu hadir Pendiri YSB Surya Paloh, Ketua YSB Rerie Lestari Moerdijat, Direktur Akademik Yayasan Sukma Bangsa (YSB) Dr Ahmad Baedowi, dan Juha Christensen yang pernah terlibat aktif sebagai penghubung perundingan antara pemerintah RI dengan GAM.

Baidowi menyebut arsitek dari semua itu adalah Surya Paloh. Dialah yang menugaskan dirinya untuk mencari informasi sebanyak mungkin di Filipina dalam upaya membebaskan para sandera. Kala itu, Surya Paloh meyakinkan bahwa tak semua orang Mindanao angkat senjata ke hutan-hutan. Sebagian anggota keluarganya tentu masih ada yang tinggal di desa-desa dan kota-kota di kawasan sekitar.

"Nah, mereka yang tidak ikut ke hutan itulah yang kami dekati. Jadi saya datang ke sana misi utamanya memang bukan untuk membebaskan sandera, karena saya bukan negosiator," ujarnya.

Baedowi menuju kota Bato di Mindanao pada 4 April setelah 10 WNI yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK) tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12, dirompak di perairan Tawi-tawi, Filipina Selatan, ketika berlayar dari Kalimantan Selatan menuju Filipina, pada 26 Maret 2016. "Saya datang sebagai guru, bukan negosiator. Selama dua minggu saya berada di sana. Baru pada awal Mei masuk ke markas Abu Sayyaf," ujarnya.

Ikhwal keterlibatan YSB dalam mendidik anak-anak Suku Sulu setingkat SMP dan SMA sebetulnya sengaja tak dipublikasikan guna menghindari berbagai prasangka yang tak diinginkan.

Menurut Rerie, Surya Paloh dan YSB selama ini lebih suka bekerja secara senyap. Karena sejak awal YSB dibentuk dan mendirikan sekolah banyak pihak meragukan bahkan mencibirnya. "Apapun yang dilakukan Pak Surya, ada saja yang memandangnya dengan sinis," ujarnya.

"Soal anak-anak Suku Sulu itu kami tak mau buka sebenarnya, tapi Pak Hafid Abbas tadi nyeplos begitu saja. Jadi Anda kalau mau silakan datang dan cek sendiri bagaimana anak-anak itu sekolah di Aceh," kata Rerie menambahkan. (jat/aan)


Berita Terkait