Wali Kota Semarang: Setiap Pemuda Punya Potensi Menjadi Pemimpin

Wali Kota Semarang: Setiap Pemuda Punya Potensi Menjadi Pemimpin

Mega Putra Ratya - detikNews
Kamis, 06 Apr 2017 19:43 WIB
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Setiap pemuda memiliki potensi menjadi pemimpin. Kepemimpinan dinilai sebagai suatu hal yang bisa dipelajari siapa pun.

"Tidak pernah tebersit di dalam hati saya menjadi orang nomor satu Semarang. Karena semasa SD, cita-cita saya pilot, kuliah berubah menjadi dokter. Dulu semasa kuliah, saya aktif di organisasi kepemudaan, seperti KNPI, Pemuda Pancasila, FKPPI, dan lainnya hingga tak sadar hampir selama 7 tahun baru lulus dari kuliah. Kemudian salah satu teman saya mendorong agar saya masuk ke dunia politik. Hingga akhirnya saya bisa menjadi seperti sekarang ini," ujar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Hal itu terungkap oleh pria yang akrab disapa Hendi itu saat didapuk menjadi salah satu narasumber dalam event EMTEK Goes to Campus 2017 di auditorium Universitas Negeri Semarang (UNNES), Kamis (6/4/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di depan ratusan mahasiswa Semarang yang rata-rata berasal dari UNNES dan Universitas Diponegoro (Undip), orang nomor satu di Semarang itu menyampaikan pengalamannya hingga menjadi Wali Kota Semarang. Setiap individu, kata dia, memiliki jiwa kepemimpinan. Caranya dengan menumbuhkan kemauan, kemampuan, dan niat.

"Kepemimpinan adalah sesuatu hal yang bisa dipelajari. Yang penting teteg di hati dan ditambah dengan semangat," ucapnya.

Hendi menambahkan terdapat 4 golongan pemuda saat ini, yaitu pemuda yang pintar tapi tidak peduli, pemuda yang peduli tapi tidak pintar yang sering menyebar berita-berita hoax, pemuda yang tidak peduli dan tidak pintar seperti anak-anak SMA yang suka tawuran, serta pemuda yang pintar dan peduli.

"Saya berharap seluruh mahasiswa yang hadir di sini tergolong sebagai pemuda di kategori keempat, yang mana akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia," katanya.

Hendi menambahkan pintar dan peduli saja belum cukup. Tetapi perlu juga sebuah nyali untuk mengatakan sesuatu yang benar.

"Dengan didukung prinsip-prinsip yang benar dan sesuai dengan ajaran agama masing-masing," tuturnya. (ega/nwy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini