Imam Besar Istiqlal Harap Tidak Ada Demo-demo Lagi

Imam Besar Istiqlal Harap Tidak Ada Demo-demo Lagi

Ray Jordan - detikNews
Rabu, 05 Apr 2017 20:11 WIB
Imam Besar Istiqlal Harap Tidak Ada Demo-demo Lagi
Foto: Bartanius Dony A/detikcom
Jakarta - Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar meminta umat jangan membuang-buang energi. Nasaruddin berharap energi umat disalurkan kepala hal yang produktif.

Nasaruddin mengatakan, Indonesia adalah negara yang sudah merdeka. Untuk itu, energi masyarakat harus dihemat. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

"Kalau saya lihat ya, kita merdeka, kita juga harus menghemat energi umat. Jadi penghematan energi umat seperti yang dilakukan nabi, ya kan. Nabi itu tidak atau jarang melibatkan anak anak, orang tua, atau perempuan, itu sangat selektif ya dalam medan perang," kata Nasaruddin saat ditemui di Istana Kepresidenan Jakarta usai bertemu Presiden Jokowi, Rabu (5/4/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu, kata Nasaruddin, perlu ada penataan dan perhitungan untuk menghemat energi umat.

"Jadi itu tandanya ada semacam penataan, perhitungan-perhitungan agar menghemat energi umat, kita juga ingin berbuat yang terbaik untuk umat ini," katanya.

Terkait dengan langkah Presiden Jokowi yang melakukan pertemuan dengan para ulama, Nasaruddin menyambut baik.

"Jadi harapannya kita semuanya, bagaimana kita beragama secara baik secara tenang sambil melakukan pendekatan produktifitas umat dari segi ekonomi, segi pendidikan dan seterusnya," kata Nasaruddin.

Soal pertemuannya dengan Presiden Jokowi, Nasaruddin mengatakan tidak ada hal yang dibahas secara spesifik. Pertemuan tersebut berlangsung cukup lama, yakni sekitar 2 jam karena diselingi dengan makan siang bersama.

"Ya saya kira tidak membicarakan persoalan-persoalan teknis. Kita bicarakan tentang persoalan jangka panjang, mungkin buku-buku referensi itu perlu kita kaji bersama, bagaimana melahirkan sebuah pemahaman Islam yang lebih komprehensif dan yang perspektif ke-Indonesiaan," katanya.

"Kan setiap budaya punya culture right untuk menafsirkan Quran. Indonesia juga punya hak budayanya untuk memahami Quran, tanpa harus bertentangan dan dipertentangkan dengan negara-negara lain termasuk Timur Tengah," Imbuhnya. (jor/idh)


Berita Terkait