DetikNews
Rabu 05 April 2017, 10:48 WIB

Kuasa Hukum Bantah Sekjen FUI Rencanakan Aksi Makar di 5 Kota

Aditya Mardiastuti - detikNews
Kuasa Hukum Bantah Sekjen FUI Rencanakan Aksi Makar di 5 Kota Ahmad Michdan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Gatot Saptono alias Muhammad Al-Khaththath dan empat orang pelaku lainnya ditangkap penyidik terkait pemufakatan makar. Kuasa hukum Al-Khaththath, Ahmad Michdan, membantah kliennya merencanakan aksi makar di lima kota besar setelah Pilkada 19 April nanti.

"Nggak benar. Jadi ada pernyataan bahwa Ustaz Khaththath menginisiasi itu nggak benar. Kita nggak tahu," kata Michdan saat dihubungi detikcom, Rabu (5/4/2017).

Baca Juga: Polda: Al-Khaththath dkk Rencanakan Aksi Makar di 5 Kota Besar

Michdan menjelaskan kelima tersangka makar dikaitkan dengan rapat pada Minggu (26/3) yang berlangsung di kediaman Khaththath di Kalibata, Jakarta Selatan. Dia menegaskan pertemuan di rumah Khaththath itu merupakan rapat terbatas untuk kegiatan pemantauan tempat pemungutan suara (TPS) pada pilkada 19 April mendatang.

"Tersangka ada lima, kemudian yang diduga makar itu dikaitkan dengan rapat 26 Maret 2017. Itu membahas kaitannya dengan bukan rapat, itu khusus diselenggarakannya TOT untuk kegiatan Gubernur Muslim Jakarta (GMJ), yang intinya sebetulnya rapat terbatas untuk pemantauan TPS-TPS," jelasnya.

Michdan mengatakan rapat itu sedianya digelar di Masjid Baiturrahman Saharjo, Menteng Atas, Jakarta Pusat. Menurut dia, karena jumlah peserta hanya 10 orang, kegiatan itu dipindahkan di firma milik Khaththath di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

"Nah, yang saya tahu, rapat itu nggak ada Ustaz Khaththath, itu menerima tamu di ruang tunggu. Dia tuan rumah yang kegiatannya TOT, technical official untuk pemantauan pilkada di TPS-TPS. Kemudian selesainya pukul 22.00 WIB dan setelah itu mereka ngobrol-ngobrol. Itu yang kemudian mereka berbincang di sana, jadi bukan rapat," beber Michdan.

Michdan menambahkan saat itu kliennya memang berada di rumah yang sama, hanya berbeda ruangan. Namun Khaththath tidak ikut berbincang karena masih ada tamu.

"Ustaz Khaththath masih terima tamu di rumah yang sama, cuma berbeda ruangan. Yang mereka ketahui rapat TOT, ada tamu, kemudian ngobrol, nggak tahu apa yang dibicarakan. Itu sebatas ngobrol juga. Jadi tidak benar kalau ada pernyataan Ustaz Khaththath melakukan perencanaan makar di lima kota. Itu sumir, mengada-ada, tinggal dibuktikan ada undangannya atau tidak. Yang benar itu TOT untuk pemantauan pilkada itu tanggal 19 (April) nanti," tegas dia.

"(Kegiatan) pengawasan dan pemantauan pilkada. Beliau bersimpati kepada gubernur muslim. Artinya bahwa itu keyakinannya bahwa pimpinan umat itu harus yang muslim, ada relawan-relawan si Irwan yang, kalau nggak salah, dia yang jadi relawan GMJ," sambung Michdan.

Michdan juga menyebut kliennya sama sekali tidak melakukan perbuatan makar. Menurutnya, aksi GNPF di Jakarta bisa saja tumbuh di daerah-daerah lain.

"Nggak mengerti saya, karena daerah punya kewenangan sendiri. Banyak GNPF itu di Jakarta, timbul juga di daerah-daerah, bikin organisasi yang sama jadi nggak ada. Itu inisiatif mereka sendiri-sendiri. Intinya ingin mengontrol pemerintahan lebih baik. Bagaimana penegakan hukum terhadap pelaku penodaan agama itu kontrol masyarakat yang dibolehkan UU," urai dia.

"Artinya Ustaz Khaththath dan jemaah yang kepentingan demo itu mengakui adanya presiden. Jadi jangan rapat-rapat, yang jelas makar itu substansinya mengubah UU. Kedua, mengganti atau menggulingkan pemerintahan yang sah itu kan nggak sederhana, ada lembaga kepresidenan, DPR, TNI/Polri. Memang mudah?" ucap Michdan.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengungkapkan pemufakatan makar itu tidak hanya akan dilakukan di Jakarta, tapi juga di empat kota besar lainnya. Pada pertemuan itu para tersangka membicarakan makar atau pemufakatan makar dan diduga mengagendakan menggulingkan pemerintahan yang sah dengan menduduki DPR/MPR.

"Untuk kegiatannya tidak hanya di Jakarta saja, tapi dilakukan secara serentak di lima kota. Yang pertama di Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan kelima di Jakarta itu bersamaan," terang Argo kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (4/4/2017).
(ams/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed