DetikNews
Selasa 04 April 2017, 06:53 WIB

Tapal Batas

Gerbang Perbatasan dan Aliran Barang-barang ke Tetangga

Danu Damarjati - detikNews
Gerbang Perbatasan dan Aliran Barang-barang ke Tetangga Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Bicara soal perbatasan, maka tak bisa dilepaskan dari soal keluar masuk orang dan barang-barang dua negara. Indonesia, masih perlu mengejar ketinggalan dari negara-negara tetangga.

Tim Tapal Batas detikcom sudah menjelajah salah satu perbatasan Indonesia, yaitu Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan dengan Timor Leste. Arus lalu lalang orang dan barang terlihat jelas di garis tipis kedua negara.

Namun, sebelum melihat lebih jauh yang terjadi di Atambua, mari melihat lagi gambaran aliran barang-barang di 3 perbatasan: Entikong, Merauke dan Atambua.

Melihat toko-toko di Entikong, merek-merek asing tertata rapi di rak. Nama-nama barang ini cukup asing di mata dan telinga orang Jakarta.

Saat itu, pengujung 2016, detikcom sedang berjalan-jalan di Balai Karangan, Entikong, Kalimantan Barat. Toko Sido Mulyo menjadi tempat kami mencari cemilan. Biskuit, susu, cokelat, dan sebagainya tertata rapi.

"Made in Malaysia," begitulah tulisan di balik sebuah kemasan biskuit. Ternyata banyak sekali barang-barang impor dari Malaysia yang masuk ke Entikong. Padahal produk Indonesia juga banyak yang serupa dengan yang diperdagangkan di sini.

Terlepas dari sentimen nasionalisme, ternyata ada kendala bagi pedagang-pedagang di sini untuk mendatangkan barang dari Indonesia. Barang-barang dari Malaysia lebih mudah didapat, pengirimannya lebih murah, dan tentu datang lebih cepat ke toko-toko di sini. Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong adalah jalan masuk barang-barang ini ke Indonesia.

Indonesia mulai sadar. Presiden Jokowi kini benar-benar ingin membalikkan kondisi. Barang-barang dari Indonesia harus menggelontor ke negara tetangga, entah itu ke Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, atau manapun.

"Dari sini lewat Kuching (Malaysia) bisa ke negara lain, tidak apa-apa, kenapa tidak? Tapi jangan sampai (produk) dari sana masuk kebanyakan ke sini," ujar Jokowi setelah meresmikan PLBN Aruk di Kabupaten Sambas, Jumat (17/3/2017).

Dengan cara-cara seperti ini, lanjut Jokowi, akan mempercepat PLBN menjadi titik pertumbuhan ekonomi di perbatasan. Seperti di PLBN Badau, di mana terdapat ekspor CPO sebanyak 70 ribu metrik ton. Di kawasan Aruk, masih di kabupaten yang sama, komoditas unggulannya adalah jeruk, lada, dan buah naga. Pokoknya, produk Merah Putih harus menghegemoni lapak-lapak tetangga.

"Dorong semuanya untuk ekspor," perintah Jokowi.

Untuk mendorong misi ekonomi itu juga, kini dibangun jalan paralel perbatasan yang membentang dari Kalimantan Utara hingga Kalimantan Barat. Bila sudah jadi, panjangnya akan mencapai 1.900 km. Kini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dibantu Zeni TNI sudah berhasil membangun 520,85 km.

Tanpa adanya jaringan jalan ini, maka masyarakat perbatasan masih akan bergantung pada produk yang datang dari Malaysia. Namun dengan adanya jalan ini, kendaraan logistik bisa melintas dan barang lokal RI bisa dibawa menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN).

Di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), misi ini juga dijalankan. PLBN Motaain di Atambua, Kabupaten Belu, dibangun baru. Arus barang dari Indonesia didorong untuk mengalir deras ke Timor Leste.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman melihat komoditas pangan dari NTT bisa dijual ke Timor Leste. Jagung, kacang, dan bawang merah dari kawasan ini punya area tanam 75.000 hektare, ini potensi. Amran bahkan berambisi untuk menghidupi Timor Leste dengan bahan pangan dari Indonesia, dalam bentuk barang dagangan tentunya.

"Ini kan ada satu juta orang lebih di 'sebelah', kita yang harus hidupi," ujarnya di PLBN Motaain, Selasa (15/3/2017).

Usai memberi bantuan berupa lahan itu, dia akan kembali lagi tiga bulan setelahnya untuk melihat hasil panen. Tak main-main, dia bahkan berujar akan membangun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk pabrik pakan ternak di sini, supaya hewan ternak juga bisa diekspor ke negara tetangga.

Di Bumi Cenderawasih, arus ekspor juga dibuka selebar-lebarnya. Tahun 2017 bahkan menjadi rekor tersendiri. Setelah tujuh dasawarsa, kini Indonesia mampu mengekspor beras dari Merauke ke Papua Nugini. Harganya RP 10 ribu/kg, atau separuh harga beras impor dari Filipina, Thailand, dan Vietnam. Ditargetkan, ekspor beras ini mencapai 10 ribu ton pada panen musim hujan 2017 ini.

Amran pada Februari kemarin berujar bahwa biaya produksi pertanian di Merauke turun 60 persen kali ini. Merauke memang daerah di Papua yang diproyeksikan menjadi lumbung pangan.

Luas sawah di sini ada 64 ribu hektare, produksi beras sebanyak 110 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan hanya 25 ribu ton per tahun, alias surplus beras.

Gerbang Perbatasan dan Aliran Barang-barang ke TetanggaFoto: Lamhot Aritonang
Di tengah semangat tinggi mengirim barang ke luar negeri, ada juga masalah sumber daya manusia yang perlu diperhatikan. Pembangunan manusia di wilayah-wilayah perbatasan perlu jadi perhatian serius, agar mereka tak jadi 'komoditi' yang ikut dikirim keluar negeri.

Atambua dan Perdagangan Manusia

Atambua, yang dalam bahasa setempat bermakna tempat pembuangan hamba alias budak, termasuk wilayah rawan perdagangan orang sejak dulu. Konon katanya, praktik jual beli budak ada di tempat ini pada zaman dahulu kala. Bagaimana dengan kini?

Plt Bupati Belu Wilhelmus Foni pada 14 Februari 2015 mengungkapkan ada 238 ribu jiwa di Belu, dan 54 ribu di antaranya merupakan penduduk miskin. Mereka ini yang potensial melakukan migrasi tidak aman hingga jadi korban perdagangan orang (human trafficking). Sering terdengar kabar duka dari Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal NTT, maka arus TKI ilegal ini harus disetop.

Sebanyak 80% TKI asal Belu memilih negara tujuan ke Malaysia. Wilhelmus mengakui bahwa kualitas SDM warganya memang masih kurang. Wilhelmus usul ke Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri agar dibuatkan Balai Pelatihan Tenaga Kerja yang memadai di Belu. Hanif sendiri saat itu juga mengungkapkan ada 70 ribu kasus perdagangan orang dalam setahun di NTT.

Kita nantikan saja, apa benar arus barang-barang dari Indonesia bakal deras mengalir ke kanan kirinya, dan mulai menyejahterakan warga di kawasan terdepan negara.

Artikel mengenai Tapal Batas bisa dibaca di sini.




(dnu/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed