Kementerian perhubungan memanggil manajemen Lion Air untuk meminta klarifikasi terkait delay penerbangan dan avtur bocor. Kemenhub akan memberikan waktu dua bulan untuk memperbaiki kekurangan, jika tidak akan dikenakan sanksi sesuai SOP atau regulasi.
"Airlines akan diberikan dorongan untuk berkembang pesat, kami berikan waktu dua bulan kepada pihak Lion untuk menutup kekurangannya. Kami akan tetap awasi dengan ketat terhadap komitmennya," ujar Direktur Jendral Perhubungan Udara Agus Santoso di Kantor Kemenhub, Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (3/4/2017).
"Akhir Mei akan kami tagih, kalau melewati dua bulan akan kami stop (masa tinjau) dan diberi sanksi yang sudah diatur dalam regulasi atau SOP bisa di suspend," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua mengenai keterlambatan karena pesawat mengalami gangguan, pihak Kemenhub rekomendasikan adanya pesawat yang standby untuk mencegah hal tersebut.
"Beberapa alasan keterlambatan karena pesawat sedang mengalami gangguan, kami rekomendasikan harusnya ada pesawat yang sifatnya standby, untuk mencegah hal seperti itu. Kami meminta schedule rotasi crew, sehingga masing- masing tidak melampaui jam kerjanya. Kami minta mereka menata manajemen air crew, sehingga tidak terjadi delay ketika penumpang sudah masuk, tetapi crew belum ada," ujar Agus.
Terkait masalah Boeing 737, pihak Kemenhub instruksikan direktur keselamatan untuk investigasi. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kepada pesawat yang lain jika mengalami hal serupa.
"Kami menginstruksikan direktur keselamatan untuk investigasi (overfill). Apakah case ini hanya pada Lion saja, atau memang pada semua pesawat jenis itu. Kalau memang pada jenis itu saja, kami akan membuat AC (Advice Circular). Tujuannya agar bisa mengantisipasi kepada pesawat lain yang jenisnya sama," kata Agus.
Terakhir Agus meminta adanya customer care dari pihak Lion agar tidak mengecewakan penumpang. Pihak Lion Air pun meminta maaf kepada dan menyanggupi akan memperbaiki hal-hal yang menjadi catatan dari Kemenhub.
"Kami minta maaf yang sebesar besarnya kepada konsumen. Kasus overfill di Surabaya, Kami menindaklanjuti, kami membuat manajemen komitmen, bahwa kekuatan crew harusnya 1:3,5, tetapi kami akan menaikkan indeksnya menjadi 1:5. Sedangkan pesawat standby sudah kami siapkan seperti SOP," ujar Managing Direkt Lion Air Daniel Putu Kuncoro Adi.
Daniel juga menjelaskan terkait safety review dalam Boeing akan dikoordinasikan secara intens, dan dimonitor selama satu tahun. Untuk perbaikan sistem rotasi pihak Lion akan ganti dengan sistem yang lebih membantu operasional. Dia jua mengatakan akan membuat unit aduan yang akan ada di setiap bandara.
"Kami akan membuat unit aduan yang akan ada di setiap bandara. Kami akan membuat Immediately Committee Action Plan (ICAP) yang concer pada beberapa kasus seperti overfill kemarin. Engineering kami sudah mengeluarkan instruksi menginvestivigasi ini," tutupnya.
(lkw/rvk)










































