Surat dari Buncit

Mari Menulis di Kolom dan Opini detikcom!

Is Mujiarso - detikNews
Senin, 03 Apr 2017 12:35 WIB
Foto: (detikcom)
Jakarta - Ketika muncul hampir 20 tahun yang lalu, detikcom dikonsep sebagai media alternatif yang menyajikan berita cepat. Kala itu, internet boleh dibilang masih merupakan "barang" baru, yang belum dijangkau oleh banyak orang.

Kini, situasi telah sangat jauh berubah. Media online sudah menjadi media konvensional dan mainstream, yang bisa diakses siapa saja, kapan saja, di mana saja. Dalam hampir 20 tahun, terjadi beberapa kali gelombang kemunculan media online, dengan konsep yang terus berkembang.

Dulu, siapa yang pernah membayangkan, orang bisa memesan tiket pesawat dan hotel hanya dengan satu-dua kali klik sambil menyesap kopi di kedai masa kini? Ada pula masanya ketika orang beramai-ramai membuat medianya sendiri dalam bentuk blog. Lalu, dalam waktu yang tak lama, muncullah situs mikro-blogging yang melahirkan kaum "opinion leader" baru hanya dengan berbekal kerajinan "kultwit".

Dalam perkembangan seperti itu, ketika setiap individu memproduksi informasi dan bahkan menjadi "media" dengan akun-akun socmed berpengikut ribuan bahkan jutaan, gelombang terbaru kemunculan media online memperlihatkan kecenderungan yang berbeda lagi. Media online menggeser konsepnya dari sekedar menyajikan "berita cepat", menjadi media-media berbasis riset yang kuat, dan memadukan antara konsep "online" dan media lama, dengan menyerap insight dari trending media sosial. Di samping itu, interaksi dengan "user" juga menjadi rumus baru, yang melahirkan media-media berbasis opini yang —ternyata— digemari masyarakat.

Pembaca yang Budiman,

Menyikapi perkembangan seperti itu, detikcom sebagai media online generasi pertama tidak akan berdiam diri karena tentu tak ingin ditinggalkan zaman dan pembacanya. Seperti kata Bapak Evolusi Charles Darwin, bahwa yang akan bertahan bukanlah yang terkuat melainkan yang mampu beradaptasi.

Tentu saja, kami tidak perlu mengubah konsep secara mendasar sebagai media yang telah dicitrakan sebagai penyaji berita cepat. Namun, berbenah di sana-sini dengan menyesuaikan perkembangan terkini, jelas merupakan keniscayaan yang tak bisa ditawar, dan ditunda lagi.

Jadi, mengapa menunggu besok, detik ini juga kami akan mulai membuka diri dengan tulisan-tulisan yang bersifat non-berita. Baik itu kolom yang ringan, renyah dan nakal, maupun opini-opini mengenai suatu permasalahan aktual yang disajikan dengan argumentatif, menarik dan sesuai dengan karakter media online: ringkas, padat, menggoda. Bahkan, bukan tidak mungkin, ke depannya kami akan menyajikan cerita pendek —kenapa tidak?

Oleh karena itu, kami mengundang Anda, pembaca sekalian, untuk mengirimkan karya-karya terbaik ke redaksi kami. Jangan sungkan, jangan ragu, bergabunglah bersama kami dalam arus perubahan dan perkembangan media online terkini.

Kirimkan kolom ataupun opini Anda mengenai isu-isu politik, ekonomi dan sosial budaya secara umum, juga tulisan-tulisan lain non-berita, semacam esai atau prosa yang berangkat dari pengalaman pribadi yang emosional, reflektif, mengenai suatu tema atau tempat, berkaitan dengan memori kolektif, yang bisa dibagi kepada pembaca, untuk melihat fenomena masa kini, menjembatani pemahaman antara masalalu dengan masa sekarang.

Tulisan hendaknya tidak lebih dari 6000 karakter, orisinal, belum pernah dimuat di media lain, disertai dengan identitas atau biodata diri singkat (dalam satu-dua kalimat untuk dicantumkan ketika tulisan tersebut dimuat), serta foto diri yang menarik. Kirimkan tulisan Anda ke redaksi@detik.com atau mumu@detik.com, dan kami tunggu mulai hari ini.

Setiap tulisan tentu akan melalui proses kurasi yang ketat, dan redaksi berhak menyunting dan melakukan penyesuaian lain seperlunya tanpa mengubah esensi isi dan pesan yang hendak disampaikan. Tersedia honorarium yang layak untuk setiap tulisan yang dimuat, yang bisa dipakai untuk mentraktir ngopi segenap teman, ataupun menambah uang saku jalan-jalan Anda. (mmu/nwk)