"Ini belum pernah terjadi sama sekali dan kami sangat prihatin, bahkan kekerasan saja tidak. Pemukulan dari senior ke junior itu tidak pernah terjadi karena kita ada kode kehormatan yang tidak boleh dilanggar," ujar Herzaky saat dihubungi detikcom, Sabtu (1/4/2017).
Ia mengatakan perpeloncoan atau kekerasan seperti itu memang benar tidak boleh terjadi. Jika terjadi kekerasan, pelaku akan dikeluarkan dari sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun senioritas diakui memang ada, ucap Herzaky, hukumannya pun lebih ke arah mental, bukan fisik. Kalau terdapat hukuman seperti push up, itu resmi diketahui pihak sekolah.
"Ya senioritas memang ada, tapi kita nggak pernah memukul, paling cuma seperti benerin sepatu. Kalaupun ada push up dan lari, itu juga hukuman resmi dari sekolah," tuturnya.
Herzaky berpendapat sistem pendidikan di SMA Taruna Nusantara lebih menekankan moral, bahkan ada tes kreativitas untuk melatih siswa memecahkan masalah. Sekolah Taruna Nusantara sangat kuat membekali wawasan kebangsaan, kepemimpinan, dan ikatan bersaudara kepada para siswa.
Selain itu, Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara menyatakan sikapnya dengan mengucapkan turut berdukacita kepada keluarga dan mendukung penuh upaya sekolah mengambil langkah tegas agar peristiwa ini tidak terulang.
"Kami mengucapkan turut berduka dan mendukung penuh upaya sekolah dalam mengambil langkah agar tidak terjadi lagi. Kami juga mengharapkan aparat penegak hukum bertindak profesional dan transparan terhadap kasus ini," ucapnya.
"Kami berharap semua pihak dapat menahan diri dengan tidak membuat spekulasi atau mengambil kesimpulan sendiri. Kami juga tetap mencari informasi terkait dengan tewasnya adik kami, Kresna Wahyu," kata Herzaky. (lkw/ams)











































