"Kalau saya melihatnya Taruna Nusantara itu kan, sebenarnya bukan sekolah pendidikan militer tetapi pendidikan SMA umum dia. Jadi memang idenya dulu Benjamin Moerdani itu membuat untuk calon pemimpin masa depan, maka di SMA ini mereka dilatih. Hanya masalahnya sampai sekarang saya melihat di situ ada sistem militerisme yang jalan, itu yang membuat adanya potensi pelanggaran atau kekerasan semacam itu," ujar Doni saat dihubungi detikcom, Jumat malam, (31/3/2017).
Ia juga menjelaskan bahwa hal ini kerap terjadi karena budaya yang ada di sekolah tersebut. Jika sistem senioritas dan semacamnya tetap dijalankan, tidak menutup kemungkinan mencetak pemimpin yang menindas rakyatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya pendidikan seperti itu sudah harus ditinggalkan, saat ini pendidikan yang lebih kolaborasi dan gotong royong lebih dikedepankan. Sosialisasi dan pengembangan profesi guru juga harus diperhatikan.
"Perlu memang sosialisasi, tapi lebih dari itu sebenarnya pengawasan pengembangan profesi guru yang harus diperhatikan. Sekarang itu sudah tidak ada zamannya kekerasan, tapi zamannya gotong royong, kolaborasi dan partisipasi jadi bukan lagi dominasi dan kekuasaan," imbuh Doni.
Selain itu dia juga menjelaskan, pendidikan di lingkungan keluarga juga sangat mempengaruhi pola perilaku anak. Ia juga mengatakan seharusnya pemimpin bangsa itu lahir dari individualnya sendiri bukan karena orang tua.
"Ini bukan hanya salah guru tapi disitu juga ada orang tua yang berperan. Nah, di Taruna Nusantara itu orang tuanya tentara yang punya pangkat. Nanti tingkah anaknya itu tergantung dari siapa orang tuanya dan bagaimana orang tuanya mendidik. Pendidikan di rumah itu sangat berpengaruh, dan harusnya seorang pemimpin bangsa itu lahir dari ke individualnya bukan karena orang tuanya," pungkasnya.
Dia berharap adanya permasalahan ini semua pendidik harus sadar fungsi profesinya seperti apa agar tidak ada komunikasi yang terputus. Sistem pendidikan juga harus diubah menjadi lebih ramah.
"Sistem harus diubah dengan sistem yang ramah dan tidak ada unsur militernya, itu lihat istilahnya saja seperti barak sudah jelas sangat militer. Taruna Nusantara itu menurut saya sekali lagi bukan sekolah militer. jadi tidak bisa sera merta cara-cara akmil diterapkan di Taruna Nusantara," tutupnya.
(lkw/ams)











































