Gara-gara KAA, Penerbangan Bandung-Jakarta Ditutup
Rabu, 20 Apr 2005 21:21 WIB
Bandung - Efek KAA (Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika) memang luar biasa. Gara-gara konferensi internasional ini, penerbangan Bandung-Jakarta Bandung ditutup pada hari H, 24 April 2005. Selama ini, banyak maskapai penerbangan yang melayani rute Bandung-Jakarta. Misalnya, Deraya, Merpati, dan Kausar. Biasanya maskapai penerbangan ini berangkat pukul 07.00 pagi di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Jadwal penerbangan berkali-kali dan berakhir pada sore ini. Dengan ditutupnya penerbangan pada 24 April, pihak maskapai jelas merugi. Tapi, mereka memahami kondisi ini. "Secara bisnis kita rugi, tapi ya kita mengerti juga dengan adanya KAA ini, " ungkap ketua DPD ASITA Jawa Barat, Yachya Machmoed saat dihubungi oleh detik.Com, Rabu ( 20/4/2005) di Bandung.Menurut dia, kerugian pendapatan yang dialami sejumlah maskapai penerbangan itu tidak bisa dipukul rata. Yachya Machmoed memberikan contoh, maskapai penerbangan Deraya melakukan penerbangan tiap harinya sebanyak 5 kali dengan jumlah penumpang sebanyak 30 orang. Harga tiket Bandung-Jakarta sekitar Rp 200 ribu. Begitu juga dengan Merpati dan Kausar yang tiap harinya melakukan penerbangan hingga 5 kali dari Bandung menuju Jakarta. Rata-rata penumpangnya sekitar 60%. "Air Asia maskapai penerbangan dari Malaysia juga tidak bisa masuk ke Bandung," kata Yachya Machmoed. Menurut dia, kebijakan penutupan keberangkatan penerbangan dari Bandung ke Jakarta diambil oleh Panitia KAA demi masalah keamanan. Saat ini kondisi Bandara Husein Sastranegara tidak memiliki kapasitas yang besar. Selain itu juga, menurut dia, penutupan ini dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan arus penerbangan di Husein Sastranegara.Rencananya terdapat enam pesawat Boeing 737-400 atau Boeing 737-500 yang akan membawa seluruh kepala negara dari Jakarta menuju Bandung. Ditambah dengan dua pesawat cadangan dengan jenis yang sama. Sementara itu, ada 5 kepala negara yang akan membawa pesawat pribadi, yaitu Jepang, Vietnam, China, Philifina, dan Brunei Darussalam. "Di Bandung cuma punya satu bandara, susah. Kalau di Jakarta masih bisa dipindahkan ke bandara yang lainnya," katanya.
(asy/)











































