Takut Digusur, Pedagang 16 Ilir Bongkar Sendiri Kiosnya
Rabu, 20 Apr 2005 17:58 WIB
Palembang - Takut lapak dan kios mereka hancur saat digusur puluhan eskavator pada Kamis besok, ratusan pedagang di Jalan Sentot Ali Basah atau Lorong Basah, 16 Ilir, Palembang, Rabu (20/4/2005) ini membongkar sendiri lapak dan kiosnya."Kayaknya Walikota tetap ngotot mau membongkar. Daripada kios kami rusak, ya, lebih baik membongkar sendiri," kata Eman, seorang pedagang buah-buahan kepada detikcom, Kamis (20/4/2005).Sama seperti Eman, ratusan pedagang lainnya juga membongkar lapak dan kios mereka. Sebenarnya mereka berharap Walikota Palembang mau menunda pembongkaran lapak dan kios."Kami ini sebenarnya minta ditunda hingga Desember 2005 atau tahun depan. Kami kan mau mencari tempat yang lain, sehingga tidak seperti sekarang ini, serba mendadak dan terburu-buru," kata Eman. Namun, tidak semua pedagang seperti Eman. Ada segelintir pedagang yang tetap ngotot agar penggusuran tersebut ditunda. "Kami tidak menentang rencana pembongkaran itu. Tetapi, kami hanya minta ditunda setahunlah," kata Mulyadi, seorang pedagang saat bertemu dengan sejumlah anggota Dewan Palembang.Bahkan dikatakan Mulyadi, sejumlah pedagang mengancam akan melakukan blokade guna menghadang rencana penggusuran tersebut.Soal tuntutan tersebut, Asisten I Pemerintah Palembang Farhan Abdullah mengatakan pihaknya tetap akan melakukan penggusuran terhadap para pedagang pada Kamis. "Penertiban PKL tidak dapat ditunda lagi. Sosialisasi dan pendekatan sudah dilakukan kami terhadap para pedagang sebelum masuk batas waktu penertiban," kata Farhan kepada pers di ruang kerjanya, Rabu (20/4/2005).Seperti diketahui, Pemerintah Palembang berencana bahwa di bekas lokasi Pasar 16 Ilir dan sekitar Taman Nusa Indah dan Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) akan dibangun sebuah taman wisata. Di atas lahan seluas 1,5 hektare itu juga akan dibangun pusat perbelanjaan dan hotel. Rencana pembangunannya paling lambat tahun depan atau 2006.Sejumlah aktifis di Palembang menilai penggusuran itu merupakan pintu masuk untuk menggusur masyarakat di tepian Sungai Musi.
(nrl/)











































