"Tadi sempat ada biawak, saya heran kenapa masih ada biawak di Sungai Ciliwung," kata Soni di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (30/3/2017).
Keheranan Soni dijawab oleh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) Kementerian PUPR, Teuku Iskandar. Iskandar menyebut memang sebenarnya masih banyak biawak yang hidup di Sungai Ciliwung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Iskandar, menyatakan komitmennya untuk tetap menjaga keasrian Sungai Ciliwung. Meski akan dilakukan normalisasi dengan dinding turap (sheet pile), Iskandar mengatakan akan ada bagian-bagian di Kali Ciliwung yang tidak di dinding turap.
Iskandar menyebut wilayah yang tidak akan di dinding turap adalah wilayah bibir Sungai Ciliwung yang memiliki batu cadas. Alasannya, karena diantara batu cadas itu merupakan tempat tinggal dari biawak.
"Batu cadas nggak kita ganggu sampai kapan pun. Yang bentang alam masih baik nggak kita ganggu. Tadi saya tunjukin ke Pak Plt (Sumarsono) banyak biawak yang selama ini langka. Sekarang sudah kembali. Itu salah satu bentuk alam sudah memberikan tempat yang baik," kata Iskandar di lokasi yang sama.
Beberapa wilayah bibir Sungai Ciliwung yang tidak akan diganggu keasriannya antara lain ada di kawasan Condet, Jakarta Timur. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa nantinya jalan inspeksi akan dibuat sedemikian rupa agar tidak ganggu kehidupan biawak.
"Kampung Pulo tanpa kemiringan Jalan Jatinegara bisa habis. Sekarang sudah nggak ideal. Ada beberapa bentang alam yang bisa dipertahankan ya kita pertahankan. Seperti di Condet ada (batu) cadas nggak kita ganggu. Sekarang jauh lebih baik sungainya," ujar Iskandar.
Iskandar juga mengatakan bahwa sepanjang Sungai Ciliwung akan ada 25-30 persen yang tidak dipasang dinding turap untuk menjaga keasrian Kali tersebut.
"25-30 persen (Ciliwung) nggak kita beton, terutama di hulu," tutup Iskandar.
(bis/rvk)











































