Geger Teror Piton dan Aneka Cara 'Menyingkirkannya'

Geger Teror Piton dan Aneka Cara 'Menyingkirkannya'

Andhika Prasetia - detikNews
Kamis, 30 Mar 2017 09:29 WIB
Geger Teror Piton dan Aneka Cara Menyingkirkannya
Ilustrasi (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -


Nasib tragis Akbar (25), warga Mamuju, Sulawesi Barat, yang tewas setelah ditelan ular piton sepanjang 7 meter, terus menjadi buah bibir warga dalam negeri hingga mendunia. Butuh beragam cara untuk menaklukkan reptil mematikan itu.

Terhangat, peristiwa yang dialami Akbar menggegerkan warga Mamuju, Sulawesi Barat, pada Senin, 27 Maret 2017. Awalnya Akbar berpamitan kepada keluarga hendak memanen sawit. Dia meninggalkan rumahnya yang berlokasi di Dusun Pangerang, Desa Salubiro, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, pada Minggu, 26 Maret 2017 sekitar pukul 09.00 WIB. Namun, setelah seharian Akbar tidak kunjung pulang, warga dan keluarga mencari dan akhirnya menemukan Akbar di dalam perut ular piton sepanjang 7 meter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teror ular Piton juga pernah menggegerkan warga Desa Payarumbai, Indragiri Hulu (Inhu), pada 20 Januari 2017. Ular piton sepanjang 6 meter melilit Wahyu (22) hingga tewas. Pada awal 2016, puluhan ular piton berbagai ukuran pernah meneror warga di Jalan Anggrek, Semarang, tepatnya di tengah kota dekat Lapangan Simpang Lima, di belakang Mal Ciputra. Ular piton itu muncul di jalan hingga di dalam rumah warga. Ular-ular itu bersarang di rumah-rumah kosong yang kondisinya sudah rimbun tanaman dan tidak terurus. Warga bahkan telah menangkap belasan ular itu.

Penemuan piton ini membuat warga bergerak mencarinya dan bahu-membahu membersihkan sarangnya. Peneliti reptil dari LIPI, Evi Ayu Arida, menjelaskan ular piton tidak termasuk golongan hewan buas. Reptil yang memangsa dengan cara melilit dan menelan ini biasa memakan tikus dan burung serta memiliki tempat persembunyian.

"Biasanya di tempat-tempat yang dekat sungai kecil, bisa juga di celah-celah dinding gua yang ada air di dalamnya," kata Evi, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (29/3).

Menurut dia, ular piton memangsa manusia karena kemungkinan 'ketenangannya' diganggu. "Karena anggapan semua ular jahat, kaget dan takut, orang berusaha menangkap untuk membunuh ular. Ketika itulah sebenarnya manusia mengganggu ular," tuturnya.

Sementara itu, komunitas pencinta ular, SIOUX Snake Rescue (SSR), memberikan tips dalam menghadapi ular piton. Pelaksana Umum SIOUX Snake Rescue Kisut Kisin mengatakan ular jenis piton atau sanca tidak berbisa. Meski begitu, masyarakat harus tetap waspada karena ular tersebut tetap saja berbahaya bila warga tidak berhati-hati. Ada dua hal yang menjadi catatan dari ular jenis ini.

"Pertama, giginya ular piton atau sanca itu besar, jadi otomatis luka gigitanya besar dan bisa menimbulkan kematian bila kehabisan darah. Kedua, belitannya yang bisa membuat tulang remuk dan membunuh mangsa," ucap Kisin.

Ular yang habitatnya di alam liar itu berbeda dengan yang biasa dipelihara. Mereka akan lebih agresif bila merasa terancam. Karena itu, Kisin menyarankan, apabila bertemu ular, jangan panik karena hal itu bisa membuat ular kaget dan merasa terancam.

"Ngeliat ular, kita biarkan saja dulu. Ular bukan hewan yang hobi menyerang, seperti harimau dan babi hutan. Dia cenderung menghindar. Ular itu nggak bisa melihat jelas, dia mendeteksi suhu yang ada di sekitarnya, paling umum ular itu mendeteksi gerakan. Kalau lihat ular, kita diam saja, dia nggak tahu," ucap Kisin.

Tips menangani ular piton atau sanca, menurut Kisin, adalah jangan dibunuh. Misalnya, bila ular tersebut ada di dalam ruangan, sebaiknya dikurung dan disemprotkan wewangian. "Kalau masuk ke dalam kamar, jebak saja di dalam kamar. Ular tidak suka bau menyengat dan bisa semprot dengan wewangian. Dalam 5-10 menit, lalu buka satu akses, pilih mau dikeluarin lewat mana, langsung pasti ularnya akan keluar lewat situ. Dia cari udara yang lebih segar lewat situ," tutur Kisin.

Untuk ular piton yang meneror permukiman, diperkirakan karena habitatnya terganggu atau rusak. Warga juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan masing-masing supaya tidak 'diteror' ular. (aan/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads