"Karena dalam bahasa ada perkembangan, maka seorang penafsir harus menampilkan analisis bahasa yang digunakan dalam masanya. Dalam Al-Maidah 51 itu secara linguistik ada 'auliya'," kata Sahiron memberikan pendapat sebagai ahli yang dihadirkan pihak Ahok dalam persidangan di auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017).
Menurut dia, penting untuk memahami makna 'auliya' pada masa Nabi. Salah satu maknanya teman setia, teman dekat, atau wali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, dalam perjalanannya, ada ulama yang berbeda pendapat. Ada yang menafsirkan 'auliya' sebagai penolong, kemudian ada yang dalam konteks perang.
"Satu lagi datang ke Rasul untuk bilang tetap menggunakan Nasrani dan Yahudi dalam mempertahankan Madinah, jadi ini konteksnya adalah perang," bebernya.
"Jadi, menurut saya, pertama, maksudnya itu bukan terkait dengan kepemimpinan. Sebenarnya ini teori umum kalau kita pernah dikhianati seseorang, pesan utamanya adalah jangan berteman dengan yang berkhianat dengan kesepakatan yang pernah dicapai," paparnya.
"Ini ada kata dibohongi kok dikaitkan dengan Al-Maidah," tanya majelis hakim.
"Konteksnya itu kan panjang sekali soal nelayan dan seterusnya. Kemudian ada ini Al-Maidah 51. Menurut saya, Pak Ahok ingin mengkritik para politikus yang pakai Al-Maidah 51 untuk politik," ujarnya.
Ketua Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir Se-Indonesia itu menyebut, untuk mengetahui alasan Ahok mengatakan dibohongi pakai Al-Maidah, seharusnya ditanyakan kepada Ahok.
"Ya, harus tanya sama Pak Ahok. Menurut saya, ini mungkin saking tidak setujunya pada politikus soal ini. Menurut analisis saya, ini mengkritik para politikus," kata dia. (ams/fdn)











































