Sandiaga memimpin peluncuran gerakan anti-hoax ini di Posko Anies-Sandi, Jalan Cicurug, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/3/2017). Sandiaga mengatakan banyak fenomena hoax yang terjadi dalam pilkada seperti saat ini.
"Sudah pernah terjadi di beberapa pilkada sebelumnya, tapi tidak pernah semasif dari pilkada yang sekarang ini," ujar Sandiaga dalam sambutannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena intensitas dari serangan berita hoax tersebut sudah sangat masif, pihak Anies-Sandi kemudian sepakat meluncurkan gerakan anti-hoax. Bagaikan sebuah pertandingan sepak bola, Pilgub DKI putaran kedua ini dilihat mulai tidak sportif karena berita hoax.
"Mas Anies selalu bilang, kalau main bola itu masih fokus di bolanya nggak apa-apa. Tapi kalau fokusnya sudah di kaki, main jegal, main terabas kaki lawannya itu berarti sudah sangat tidak sehat, pertarungan yang seharusnya diisi dengan sportivitas," tutur Sandiaga.
"Oleh karena itu, hari ini kita luncurkan sebuah gerakan yang mudah-mudahan menginspirasi, yaitu gerakan anti-hoax, yaitu stop sebar hoax. Dan kami perlu untuk mengajak tokoh-tokoh masyarakat, seperti Mas Pandji, dan juga mungkin (tokoh) yang nggak bersama-sama kita di perjuangan ini, tapi juga concern terhadap struktur topografi daripada kemasyarakatan kita," tutur Sandiaga.
Sendi-sendi kemasyarakatan akan rusak jika berita hoax dibiarkan dalam Pilgub DKI putaran kedua. Anies-Sandi, yang awalnya menanggapi santai berita hoax, akhirnya harus membuat gerakan untuk mengklarifikasinya.
"Ternyata begitu nggak dibantah, beritanya makin menjadi-jadi. Hoax itu membangun opini yang sangat salah," ucap Sandiaga.
Pembiaran terhadap berita hoax itu tidak bisa ditinggal diam dalam tiga minggu menjelang Pilkada DKI putaran kedua. "Menuju 19 April, kita merasakan bahwa kita harus betul-betul di garda terdepan merapatkan untuk mengklarifikasi dan menegasi, maupun membantah hoax-hoax yang bertebaran," kata Sandiaga. (nvl/imk)











































