Ana (40) dan Mariam (49) bersama 3 anaknya, menceritakan bahwa keluarganya harus tinggal di atas atap karena rumah miliknya telah terendam air setinggi hingga 3 meter. Akibat banjir setinggi 3 meter itu, mereka pun harus rela tidur di atap pada malam harinya hanya dengan beralaskan tikar.
"Semuanya tidur di sini (di atas atap), menggelar tikar seadanya. Kasur yang berada di dalam rumah sudah terendam oleh air dan belum sempat diselamatkan," kata Ana bercerita kepada detikcom, Sabtu (25/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korban banjir Kabupaten Bandung (Foto: Wisma Putra) |
"Kelelawar, tikus sampai kecoa, semuanya berkeliaran di atap rumah ini. Semua kegiatan rumah tangga dilakukan di sini," sebutnya.
Selain keluarga Ana, Dedi (54) dan Iim (44) juga menceritakan hal yang sama dengan Ana. Meski demikian, Dedi menyebut keluarganya tidak harus tidur di atas atap tapi di lantai 2 rumahnya. Hanya saja barang-barang rumah miliknya diletakkan ke atas atap mengingat ukuran ruangan lantai 2 rumahnya kecil, yakni 2x5 meter.
"Rumah saya ada lantai 2-nya jadi tidur di lantai 2 dan barang-barang di atas atap karena lantai 2 yang digunakan untuk tidur hanya berukuran 2x5 meter, jauh lebih kecil dari atap rumah Pak Ana," ujar Iim.
Mengingat kondisi banjir yang cukup parah, yang menyebabkan lantai 1 rumah warga terendam lumpur, warga setempat berinisiatif membangun jembatan dari kayu dan bambu yang menghubungkan antara satu rumah ke rumah lainnya. Jembatan itu diatur sedemikian rupa sehingga menghubungkan satu atap rumah warga ke atap lainnya serta ke lantai dua rumah warga, jika rumah itu memiliki dua lantai.
"Fungsinya jadi kalau mau turun ke bawah, mereka bisa gunakan jembatan ini. Kalau tidak gunakan jembatan ini, lumpurnya dalam sekali, apalagi pas banjir, bisa sampai 1 meter, belum lagi airnya," jelas Iim.
Tidak Pernah Mengungsi
Sejak banjir melanda Kabupaten Bandung tahun 2005 lalu, satu keluarga di Kampung tersebut tidak pernah sekalipun mengungsi.
Adalah Kiki (89), warga Kampung Cigado yang memilih bertahan di rumahnya dibandingkan mengungsi seperti korban banjir lainnya. Hampir 1 bulan saat banjir menerjang wilayah Baleendah, Kiki bersama anaknya Jubaedah (50), menantunya Soleh (56), cucunya Asep (28) dan cicitnya Syifa (9) tinggal di lantai 2 rumahnya.
"Sejak banjir dari tahun 2005 lalu saya tidak pernah mengungsi. 4 turunan saya tinggal di sini sampai saya punya cicit. Semuanya lebih memilih bertahan di rumah meski air menggenangi lantai satu sedalam 3 meter," ungkap Kiki.
Korban banjir Kabupaten Bandung yang tak mengungsi bersama keluarganya (Foto: Wisma Putra) |
Kiki beralasan dia tidak ingin merepotkan orang lain jika harus ikut mengungsi dengan korban lainnya. "Tidak mau mengungsi karena masih bisa tinggal di lantai 2, kalau ngontrak atau pindah dari rumah sini harus pake uang," tambahnya.
Warga setempat mengeluhkan bahwa Pemkab Bandung, selama banjir terjadi satu bulan belakangan ini, sangat minim dalam hal memberikan bantuan. Bahkan, Kiki menyebut sebagai warga lanjut usia (lansia), dia hanya mendapat satu bungkus mi instan, satu botol air mineral, pempers, dan dua tablet obat sakit perut.
Warga Kampung Cigado pun membandingkan bantuan Pemkab kepada warga Cieunteng yang membuat mereka iri.
"Itu juga hanya sekali, tidak tahu dikasih sama siapa. Nggak tahu RT, nggak tahu siapa," kata Kiki.
"Kami selalu iri dan hanya bisa melihat saja. Padahal kami juga kan sama korban banjir dan masih warga Kabupaten Bandung tapi masalah bantuan, pemerintah selalu tebang pilih," tutur Iim.
Pantauan di lokasi hingga siang ini, lumpur masih mengendap di rumah-rumah warga, bahkan hingga kedalaman 60 centimeter. Lumpur tersebut belum dibersihkan karena ditakutkan air Sungai Citarum yang melintasi di kampung tersebut naik kembali dan mengenangi permukiman. (gbr/bag)












































Korban banjir Kabupaten Bandung (Foto: Wisma Putra)
Korban banjir Kabupaten Bandung yang tak mengungsi bersama keluarganya (Foto: Wisma Putra)