Bersama Calon Wakil Bupati Angkian Goo dan puluhan pendukungnya, Markus melakukan demo di depan Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (23/3/2017). Tidak hanya orasi, puluhannya pendukungnya juga menggelar poster bertuliskan 'Berantas Mafia Hukum di MK', dan 'Berkas Dijual Ke Siapa'
"Saya calon bupati Dogiyai, saya sudah dicurangi oleh Panwas, saya dicurangi oleh Kapolres Nabire dan Bupati Nabire. Mereka harus buka siapa yang perintah, siapa yang datang bayar, siapa yang menyuruh ? Supaya kebenaran dan keadilan ini bisa diungkap Ketua MK dan Sekjen " seru Markus dari atas mobil orasi, Jumat (24/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di daerah terjadi konflik, karena kami dicurangi dari lapangan sampai MK. Kami minta kepolisian ungkap siapa pelaku di balik kecurangan ini, siapa aktor utama pencuri berkas asli kami," kata Angkian.
![]() |
Aksi demo tersebut pun mendapat perhatian MK. Setelah orasi, Markus dan Angkian didampingi oleh kuasa hukum Rio Ramabhaskara melakukan audiensi dengan perwakilan MK. Pertemuan berlangsung tertutup di ruang tunggu sidang.
"Tadi ada Pak Budi, Pak Kasianur kemudian Fajar selaku jubir yang temui kita. Intinya MK mempertegas komitmen mereka, terus memproses permohonan kami dan kedua MK berkomitmen mengungkap ini terhadap tindak pidana pencurian," kata Rio usai audiensi dengan perwakilan MK.
Rio menduga di balik pencurian itu ada aktor lain. Sebab dirinya mengaku tidak habis pikir, kalau berkas itu bisa dicuri oleh pegawai tanpa ada permintaan dari luar.
![]() |
"Itu harusnya ditarik benang merah bahwa itu dokumen pilkada, tentu dugaan ada aktor lain diungkap pasti ada. tetapi lagi-lagi kita harus hormati kalau ini sudah ranah kepolisian, biar polisi yang ungkap. Bahkan terkait pencurian ini mereka (pelaku) dapat pembayaran, tidak mungkin mereka pasang badan ambil dokumen tanpa ada yang order," tutup Rio. (edo/asp)













































