Wejangan Walkot Semarang Agar Tranportasi Online-Konvensional Akur

Wejangan Walkot Semarang Agar Tranportasi Online-Konvensional Akur

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 23 Mar 2017 23:28 WIB
Wejangan Walkot Semarang Agar Tranportasi Online-Konvensional Akur
Foto: Angling Aditya P/detikcom
Semarang - Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengimbau agar ojek atau taksi online dan konvensional tidak emosional dan bentrok. Dia memberikan wejangan yang disambut positif para driver dalam sosialisasi Revisi Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 32 Tahun 2016.

Berlaku sebagai moderator sekaligus narasumber, Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu memandu acara sosialisasi yang dibawakan langsung oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono. Acara digelar di gedung Moch Ihsan komplek Balai Kota Semarang.

"Kemarin ada kejadian, karena lama tidak bertemu, ada operator taksi dan online roda dua yang ejek-ejekan," kata Hendi, Kamis (23/3/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa yang dimaksud Hendi yaitu bersitegang antara driver Go-Jek dan sopir taksi konvensional di depan stasiun Poncol Semarang hari Rabu (22/3) kemarin. Tidak ada adu fisik, dan permasalahan sudah dibantu ditengahi oleh kepolisian dan TNI yang datang ke lokasi.

Hendi berharap hal serupa tidak terjadi apalagi sampai terjadi adu fisik atau perusakan seperti yang terjadi di beberapa daerah. Dia melontarkan canda jika ada yang mau adu jotos, sebaiknya dilakukan dengan sportif dengan menyalurkan olahraga di atas ring.

Wejangan Walkot Semarang Agar Tranportasi Online-Konvensional AkurFoto: Angling Aditya P/detikcom


"Negara kita ini negara hukum, temen-temen yang masih hobi bela diri saya siapkan ring biar puas bertinju," ujarnya.

Revisi PM 32, lanjut Hendi, tidak bermaksud menyulitkan siapa pun. Justru dengan revisi tersebut bisa membantu para pengemudi baik online maupun konvensional.

Hendi kemudian mengakhiri sosialisasi dengan wejangan mengutip perkataan KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus.

"Kalimatnya menurut saya menarik diartikan masa ini, kurang lebih seperti ini bunyinya, Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena Tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena Nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatnya berbeda," ujar Hendi.

"Pendapatan sama bisa jadi musuh karena taksinya berbeda," imbuh Hendi diikuti tepuk tangan riuh para peserta.

Namun Hendi menjelaskan maksud kalimat tersebut yaitu segala sesuatu atau baik buruknya sesuatu tergantung sudut pandang. Oleh sebab itu janglah mencari-cari masalah sehingga terjadi beda pendapat dan berujung bentrok.

"Apa maksudnya? Jadi semua tergantung sudut pandang. Kalau golek (cari) masalah antara konvensional dan online, pasti ketemu. Kalau sudut pandangnya positif, Semarang kondusif dan pasti pertemuan ini bermanfaat," pungkas Hendi.



(alg/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads