DetikNews
Kamis 23 Maret 2017, 15:29 WIB

Komnas Perempuan: Poligami Diam-diam itu Kekerasan

Andhika Prasetia - detikNews
Komnas Perempuan: Poligami Diam-diam itu Kekerasan Ilustrasi Poligami (Foto: Dok. Pribadi Ana)
Jakarta - Komnas Perempuan menilai poligami atau menikahi lebih dari satu istri secara diam-diam merupakan kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan yang ditimbulkan bisa merupakan kekerasan secara fisik, psikologi, atau pun ekonomi.

"Andaikan menyetujui poligami, istrinya itu ada keterpaksaan. Andaikata ada masalah, dia harusnya lebih memilih diperbaiki. Apalagi poligami diam-diam, itu kebohongan. Mau berdalih agama sekalipun, masak kebohongan dilanggengkan? Banyak penelitian, ini kekerasan perempuan. Apa pun alasannya itu kekerasan. Walau belum tentu kekerasan fisik, ini bisa kekerasan psikis," ujar Wakil Ketua Komnas Perempuan, Budi Wahyuni saat dihubungi, Kamis (23/3/2017).

Perihal poligami diam-diam ini tengah ramai dibahas akhir-akhir ini. Pemicunya adalah tuduhan yang diarahkan ke Ustaz Ahmad Al Habsyi yang 7 tahun disebut berpoligami tanpa sepengetahuan istri yang sah.

Tuduhan itu datang dari pihak istri Al Habsy, Putri Aisyah Aminah. Pasangan suami istri tersebut tengah dilanda prahara perceraian. Adapun Al Habsy maupun pengacaranya belum berkomentar mengenai tuduhan ini. Pihak pengacara perlu melakukan klarifikasi lebih lanjut.

Kembali ke persoalan poligami diam-diam secara umum. Menurut Budi, tindakan tersebut juga melakukan ketentuan yang ada.

"Sebetulnya itu sudah ada di UU nomor 1 tahun 1974 yang termuat dalam prinsip poligami. Sebetulnya harus ada sepengetahuan dari istri pertama, rata-rata kejadian karena tidak ada keterbukaan," terang Budi.

Poligami diperbolehkan, dengan ketentuan khusus. Misalnya, sang istri tidak dapat menghasilkan keturunan atau tidak bisa 'melayani' suami.

"Harus dengan berbagai alasan. Misal tidak dapat meneruskan keturunan atau tugas-tugas tertentu. Itu jelas fungsi di situ misal ke hubungan seks," kata Budi.

Sang istri, menurut Komnas Perempuan, dapat menggugat cerai suami. Namun, ada konsekuensi yang diterima jika istri yang menggugat perceraian.

"Dia bisa menyoal dulu, kalau memang tidak bisa menerima kondisi itu ya cerai. Kalau yang menggugat istrinya, ada persoalan santunan. Istri penggugat tidak mendapat santunan," pungkas Budi.
(dkp/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed