Dalam masa kampanye putaran kedua ini, Ahok-Djarot gencar mensosialisasi Kartu Jakarta Lansia (KJL) dengan nilai bantuan Rp 600 ribu tiap bulan. Sementara itu, Anies-Sandi sejak masa kampanye putaran pertama sudah menyampaikan janji tunjangan hari tua sebesar Rp 300 ribu tiap bulan.
Djarot mengatakan KJL sudah sesuai dengan kondisi warga dan telah dihitung sesuai dengan kebutuhan lansia di Jakarta. Meski merasa ditiru, Djarot yakin warga Jakarta bisa menilai sendiri program yang baik bagi para lansia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: Ahok Tawarkan KJL, Anies Janjikan Tunjangan untuk Lansia
Dijelaskan Djarot, program lansia menjadi penting karena fenomena di lapangan menunjukkan banyak lansia yang tidak mau tinggal di panti lantaran ingin dekat dengan keluarga. Mereka perlu dibantu.
"Sebetulnya saya sering temui, ada yang tidak ingin di panti tetap ingin di rumah, tapi nggak mampu. Ada juga yang bekerja dia jualan macam-macam, tapi penghasilan di bawah UMR, patut nggak dibantu, ya harus dibantu," lanjutnya.
Dia pun menegaskan telah memiliki data rinci untuk melaksanakan program tersebut. "Sudah rinci, datanya rinci dasawisma sudah bergerak. Kita sudah punya profil, sudah terkumpul 600 ribu rumah tangga dengan berbagai macam persoalan," kata Djarot.
Baca Juga: Ahok Tawarkan Kartu Lansia, Anies: Ide Bagus Sering Ditiru
Terkait dengan program 'serupa tapi tak sama' antara miliknya dan Anies, Djarot mengatakan hal itu sah-sah saja.
"Ya nggak apa-apa, nyontoh aja gampang, nyontek kan gampang, nggak apa-apa wong sah-sah saja ya," ucapnya. (nth/imk)











































