ICRC: RI Penting Jadi Jembatan Negara Berkonflik

ICRC: RI Penting Jadi Jembatan Negara Berkonflik

Nograhany Widhi K - detikNews
Selasa, 21 Mar 2017 20:35 WIB
ICRC: RI Penting Jadi Jembatan Negara Berkonflik
Presiden International Committee of the Red Cross (ICRC) Peter Maurer (Nograhany WK/detikcom)
Jakarta - International Committee of the Red Cross (ICRC) memandang Indonesia adalah negara penting yang bisa menjembatani negara yang berkonflik. Sepenting apa?

"Indonesia itu negara yang karakter masyarakatnya banyak wajah. Ada Islam, Kristen, Buddha, Hindu, banyak etnis, ini adalah keuntungan yang sangat besar," ujar Presiden ICRC Peter Maurer.

Hal itu disampaikan Maurer dalam diskusi bersama jurnalis di Hotel Mandarin Oriental, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maurer menambahkan, untuk menjangkau komunitas global yang beragam dengan konflik yang sangat kompleks, diakuinya tidak mudah. Indonesia yang masyarakatnya memang beragam sudah memiliki pengalaman menangani konflik sektarian di lingkup internal Indonesia sendiri.

"Indonesia lebih tahu dari kita karena sudah menghadapi konflik. Indonesia sudah mengalami proses belajar itu. Termasuk mengobati luka masa lalu," imbuhnya.

Maurer memberikan contoh konkret tentang peran Indonesia di negara bagian Rakhine, Myanmar. Di Rakhine ada konflik warga Rohingya yang tak diakui sebagai warga negara Myanmar meski sudah berabad tinggal di wilayah Rakhine.

Myanmar membuka akses pada bantuan kemanusiaan Indonesia. Karena dalam hal ini Indonesia dinilai bisa merangkul pihak-pihak yang bertikai.

"Pemerintah Indonesia sudah berpengalaman melakukan dialog, tidak hanya kepada komunitas muslim, tapi juga kepada komunitas Buddha. Indonesia punya kapasitas buat itu," jelas dia.

Maurer sendiri mengatakan konflik di negara bagian Rakhine adalah fokus utama ICRC di ASEAN. Dia juga mengakui banyak kendala untuk bantuan kemanusiaan ke negara bagian Rakhine dan baru mendapatkan akses bantuan kemanusiaan pekan lalu. Selama ini ICRC juga beroperasi di Kota Yangoon, Naypyidaw, dan Mandalay.

Di Indonesia sendiri, Maurer juga sudah bertemu dengan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menko Polhukam Wiranto, serta Ketua Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla.

"Diskusi dengan Jusuf Kalla meliputi konflik di Thailand Selatan, tentang radikalisme, ekstremisme, konflik Sunni dan Syiah," jelasnya.

Belajar dari Indonesia, menurutnya, sangat penting karena dua pertiga negara konflik di mana ICRC melakukan bantuan kemanusiaan adalah negara muslim. Selain dengan JK, Maurer berdiskusi dengan Wiranto. Hal yang dibahas juga tentang melawan radikalisme hingga bagaimana meningkatkan kapasitas tentara pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di PBB untuk melakukan tugas kemanusiaan. (nwk/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads