"Hal-hal seperti ini harus diperhatikan, terutama dalam pola pengasuhan anak. Orang tua seharusnya memberikan pengarahan kepada Abil. Selain itu, juga harus ada peran pemerintah," ujar Arist saat diwawancara detikcom, Selasa (21/3/2017).
Arist mengatakan, karena Abil tergolong keluarga tidak mampu, seharusnya ada peran pemerintah dalam kehidupan Abil. Dia mengatakan seorang anak semestinya mengemban pendidikan, bukan berjualan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abil, yang mengaku berjualan untuk membantu orang tuanya, harus diberi pemahaman oleh pihak keluarga. Arist mengatakan hal seperti ini terjadi karena adanya kesalahan dalam pola asuh.
"Anak seperti ini karena ada kesalahan dalam lingkungan keluarga, artinya tidak ada dialog yang baik antara anak dengan keluarganya. Harusnya anak ini diberi penjelasan seandainya keluarganya mampu untuk menyekolahkan tapi tidak mampu beri uang saku. Itu yang harus diberikan pemahaman kepada anak," ucapnya.
Abil, pelajar kelas IV SDN 09 Tanjung Barat, Jakarta Selatan, harus berjualan sepulang dari sekolah. Dia berjualan di depan sebuah kampus perguruan tinggi di bilangan Tanjung Barat, Jakarta Selatan.
Setiap hari Abil berjualan selepas jam sekolah hingga pukul 10.00 malam, kecuali Minggu. Akibatnya, dia susah dibangunkan di pagi hari ketika hendak berangkat sekolah. Aep Saepudin, sang ayah, pun kerap dibuat marah.
"Dia tuh suka susah dibangunin pagi, karena jualan sampai malam itu," kata Aep ketika ditemui detikcom di rumah kontrakannya di Gang H. Toncit, Jagakarsa, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Minggu (19/3) kemarin.
Selain susah dibangunkan, tak jarang Abil juga ketiduran di sekolah saat jam pelajaran. Teman-teman di kelas pun pernah meledeknya. (rvk/adf)











































