DetikNews
Senin 20 Maret 2017, 20:02 WIB

Kasus Mobil Listrik, Dahlan Minta Penyidik Lengkapi Audit BPK

Rois Jajeli - detikNews
Kasus Mobil Listrik, Dahlan Minta Penyidik Lengkapi Audit BPK Foto: Ilustrator Zaki Alfarabi
Surabaya - Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus mobil listrik di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Senin (20/3/2017).

Dahlan tak bersedia menjawab seluruh pertanyaan penyidik dari Kejaksaan Agung (Kejagung). Sebab, penyidik belum mengantongi audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Kuasa Hukum Dahlan Iskan, Yusril Ihza Mahendra mengatakan kliennya tetap kooperatif mendatangi pemanggilan pemeriksaan sebagai tersangka. Tapi tak semua pertanyaan dijawab oleh Dahlan. Mantan Dirut PLN itu hanya menjawab sekitar lima pertanyaan.

"Tidak semua dijawab karena beliau tidak mengerti konteks pemeriksaannya. Surat panggilannya terkait kasus pengadaan mobil listrik, padahal perkara ini bukan pengadaan barang dan jasa," jelasnya.

Menurut Yusril, kasus mobil listrik sebenarnya sebuah pembuatan prototipe, bukan pengadaan barang dan jasa. Sehingga penggunaan dana dan pertanggungjawabannya tidak bisa disamakan dengan pengadaan barang dan jasa seperti diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) 54/2010.

"Mobil listrik itu sesuatu yang baru untuk kemajuan bangsa dan negara di masa depan. Bentuknya prototipe, jadi bukan mobil yang langsung bisa digunakan di jalanan," terang mantan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM) itu.

Logikanya, lanjut Yusril, sangat tidak mungkin tiga perusahaan BUMN yang menjadi penyandang dana melakukan pengadaan mobil listrik. Sebab mobil listrik tidak ada kaitannya dengan bisnis tiga perusahaan tersebut. "Tidak mungkin kan Pertamina melakukan pengadaan mobil listrik. Kalau mengadakan tangki minyak, itu masuk akal. Makanya, terkait mobil listrik ini, yang mereka lakukan itu ialah memberikan dana sponsorship," tegasnya.

Kasus Mobil Listrik, Dahlan Minta Penyidik Lengkapi Audit BPKFoto: Hary Lukita Wardani/dok detikcom

Sebagaimana diketahui, prototipe mobil listrik yang dibuat Dasep Ahmadi untuk kepentingan APEC 2013 menggunakan dana sponsorship dari tiga perusahaan BUMN. Ketiganya ialah, PT PGN, PT BRI dan PT Pratama Mitra Sejati (cucu perusahaan Pertamina). Pembuatan prototipe mobil listrik itu menurut Yusril seperti konsep sponsor Garuda Indonesia pada tim liga Inggris, Liverpool.

"Kan tidak bisa dihitung Liverpool harus juara atau tidak. Sebab dana sponsor itu kan dianggap sebuah cost oleh perusahaan," terangnya.

Dahlan sendiri tak mau menjawab semua pertanyaan karena memang sampai sekarang perkara mobil listrik ini tak ada audit dari BPK. Padahal saat ini ada pembaruan hukum yang menegaskan audit kerugian negara harus dikeluarkan oleh BPK. Hal itu ditegaskan dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 4/2016. Selain itu ada juga putusan MK yang menghilangkan frasa 'dapat' pada pasal 2 dan 3 UU Tipikor.

Dengan adanya putusan itu, kasus korupsi berubah dari delik formil ke delik materiil. "Jadi kerugian negara harus pasti. Nah, audit yang ada dalam perkara mobil listrik berasal dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Audit itu dipersoalkan karena menggunakan metode total lost. Metode itu dinilai tidak tepat karena barang yang dibuat Dasep Ahmadi wujudnya ada. Hanya terlambat pengirimannya beberapa unit saja ke APEC," tegas Yusril.

Yusril menyesalkan pengusutan kasus korupsi mobil listrik yang dilakukan Kejagung. Pengusutan perkara ini bisa membuat orang takut berinovasi. "Seperti saat saya membuat Sisminbakum (Sistem Administrasi Badan Hukum) dulu, oleh Kejagung juga dianggap korupsi," katanya.

Pemerintah katanya, harus perhatian terhadap sebuah inovasi. Ide cemerlang tidak boleh dihukum lewat hukum. "Jika begini terus kita akan tertinggal dari bangsa lain,"

Usai menjalani pemeriksaan, Dahlan Iskan sempat memberikan komentar. Dia mengatakan selama ini publik digiring bahwa pembuatan prototipe ini sebuah pengadaan barang dan jasa.
(bdh/try)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed