"Bawaslu tanpa ditemui pun harusnya proaktif, tanpa dilaporin pun harus aktif, dong. Buat apa pengawas? Dia harusnya di garis depan untuk mencegah kalau ada yang menyiapkan pemaksaan kehendak," kata Djarot di Jalan Kramat Lontar, Jakarta Pusat, Senin (20/3/2017).
Spanduk yang bermotif SARA pun, dikatakan Djarot, sudah tidak sesuai dengan aturan KPU. Namun dia mengaku tetap menerima tekanan tersebut dan menyerahkan kepada warga Jakarta untuk menilainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menghadapi hal-hal seperti itu harus sabar, biar masyarakat yang menilai," sambungnya.
Melihat hal ini, Djarot pun mengutarakan kepada warga untuk bisa melihat siapa sebenarnya yang mencederai demokrasi dan siapa pihak yang sebetulnya mengganggu demokrasi.
"Pernahkah saya ke mana-mana menebar kebencian, melarang ini. Kalaupun itu dilakukan teman-teman bawah, ya tolong kasih tahu. Kami selalu kasih tahu pendukung kita supaya mereka bisa meredam kemarahan dalam pilkada," tambahnya.
"Islam nggak sangar kayak begitu. Islam itu sejuk, damai. Islam itu merangkul, bukan mukul," tutup Djarot. (imk/van)











































