"Sosialisasi itu tugas rutin. Yang tidak boleh sosialisasi itu adalah aliran marxisme dan komunisme," ujar Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/3/2017).
Baca Juga: Mahasiswa USU Gelar Demo Tolak Revisi UU KPK
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rapat konsultasi terakhir pada saat ketua DPR-nya Pak Ade Komarudin, saya ingat betul Pak Akom bilang, Presiden mau berubah. Tiba-tiba waktu itu pimpinan KPK ingin mengundurkan diri, ada forum rektor lagi," katanya.
"Presiden bilang, belum waktunya ini (revisi, red). Beliau bilang, sosialisasi saja dulu. Makanya sosialisasi jalan terus karena masih dalam Prolegnas (Program Legislasi Nasional, red)," lanjutnya.
Dia menyatakan, terus berjalan atau tidaknya sosialisasi revisi UU KPK tersebut tergantung dari perintah Presiden Jokowi. Semisal, revisi UU KPK itu dicabut dari Prolegnas, maka sosialisasi akan dihentikan.
"Kalau dicabut dari Prolegnas ya nggak ada sosialisasi lagi. Tapi itu kan terserah Presiden, Prolegnas kan dibikin bersama," ucapnya. (gla/imk)











































