DetikNews
Senin 20 Maret 2017, 17:09 WIB

Alasan Multidimensi Ridwan Kamil Maju Pilgub Jabar

Erna Mardiana - detikNews
Alasan Multidimensi Ridwan Kamil Maju Pilgub Jabar Ridwan Kamil berjalan ke lokasi acara deklarasi NasDem. (Baban Gandapurnama/detikcom)
Bandung - Ridwan Kamil baru saja mendeklarasikan diri maju dalam Pilgub Jabar 2018. Digandeng Partai NasDem, Wali Kota Bandung itu menjadi orang pertama yang terang-terangan berambisi menduduki posisi Jabar-1. Sadar pilihannya menuai pro dan kontra, melalui akun media sosialnya, Ridwan Kamil memberikan klarifikasi.

Melalui akun resmi Facebook dan Instagram-nya, Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, membeberkan tujuh poin alasan ia berniat maju dalam Pilgub Jabar dan menerima pinangan NasDem.

"Banyak yang bertanya kenapa? Jawabannya sangat multidimensi," tulis Emil membuka klarifikasinya.

Pertama, menurutnya, menjadi cagub itu resmi jika sudah mendaftar ke KPUD. Dalam perjalanannya, masih banyak belokan dan lika-liku. "Bisa seperti tokoh-tokoh di Jakarta yang heboh-heboh di awal ternyata tidak jadi. Bisa seperti yang sudah dideklarasikan eh bisa berubah di hari H-1 oleh nama baru," katanya.

Poin selanjutnya, Emil mengemukakan alasan ia mau dipinang NasDem. "Hari ini sebagai independen sifatnya menerima dengan baik aspirasi siapa pun yang berniat baik mendukung. Adabnya berterima kasih ketimbang menolak yang terkesan sombong. Toh keputusan pastinya masih jauh. Esok lusa ada tambahan dukungan ya ditunggu, tidak juga ya diterima saja takdirnya," ujar Emil.

Di poin ketiga, Emil menegaskan kembali soal alasan NasDem menjadi kendaraan politiknya untuk pilgub nanti. "Kenapa dengan partai ini atuh. Kenapa tidak dengan partai-partai terdahulu. Karena partai-partai terdahulu, sudah dikomunikasikan, namun belum ada jawaban. Belum pasti juga mau. Dan masing-masing punya jadwal dan prosedur sendiri yang harus dihormati. Boro geer, gede rasa pasti didukung, apek teh ternyata teu jadi?" bebernya. Seperti diketahui, Emil didukung Gerindra dan PKS saat maju dalam Pilwalkot 2013.

Emil mengaku pilihannya menuai pro dan kontra. Menurutnya, hal itu lumrah. "Setiap pilihan situasi politik selalu ada yang suka juga tidak suka. Saya sudah melaluinya di tahun 2013. Setengah pertemanan saya balik kanan karena saya maju pilwalkot didukung partai. Sedih? Iya. Tapi saat itu dilalui saja prosesnya dengan ikhlas. Dan dibuktikan dengan bekerja dengan maksimal saat terpilih jadi wali kota, sebagian pertemanan itu tidak balik lagi," tuturnya.

Di poin kelima, Emil menolak jika dikatakan keinginannya maju dalam Pilgub Jabar 2018 karena haus akan kekuasaan. Menurutnya, apabila memang mengejar syahwat politik, ia sudah meninggalkan Bandung untuk ikut Pilgub DKI beberapa waktu lalu. "Tahun depan, 2018, itu saya menggenapkan tugas sebagai wali kota selama 5 tahun. Selesai on time," tegasnya.

Emil menyatakan, apabila nanti tidak terpilih, ia mengaku tidak jadi masalah. Ia akan kembali ke profesinya semula. "Da saya mah bukan pengangguran. Tidak punya niat cari nafkah dari politik. Kembali jadi dosen dan arsitek adalah kebahagiaan yang kembali pulang," tandas Emil.

Di poin terakhir, Emil menyatakan siap akan konsekuensi atas keputusannya. "Jadi, jika sekarang ada yang bully, 'Saya akan jadi pembenci Akang sekarang', 'maaf saya unfollow' , 'bye kang RK' dkk itu sudah takdiran berpolitik. Tidak akan baper. Karena politik adalah cara memperjuangkan nilai dan cita-cita. Dan dalam prosesnya tidaklah akan pernah, sampai kapan pun, menyenangkan semua orang," pungkasnya.
(ern/try)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed