"Saya butuh waktu 8 minggu, dari melamar sampai kami melangsungkan pernikahan," kata Rokhim pada detikcom saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana di Dusun Petung Gemarang, Madiun, Senin (20/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya senang. Saya nggak nyangka akan menikah lagi, lha wong umur saya sudah tua," kata Mbah Tampi sedikit malu.
Meski usia mereka terpaut sangat jauh, namun mereka mengaku tetap akan menjalani bahtera rumah tangganya dengan cinta dan kasih sayang. Ditanya soal keinginan untuk mendapatkan keturunan, Rokhim mengungkapkan semua akan dipasrahkan pada yang Maha Kuasa.
"Kalau Alloh SWT mau memberi anak, ya saya mau mau saja. Semua akan saya serahkan pada Alloh SWT," katanya singkat.
Berkeinginan Kuat
Keinginan Rokhim untuk bisa menikahi Mbah Tampi bukan isapan jempol belaka. Terbukti dengan kenekatan Rokhim yang akan melakukan aksi bunuh diri di rel kereta api, jika keinginannya tak dikabulkan.
Foto: Rokhim dan Tampi/Foto: In'am Tohari |
Beruntung ancaman itu tak dilakukan Rokhim. Ini karena pihak keluarga Rokhim di Nganjuk akhirnya merestui hubungan keduanya. Dan sejak itu pihak keluarga kedua mempelai mulai berembug untuk menentukan waktu lamaran dan pernikahan.
"Yang jelas pernikahan ini resmi dan sah, ya lewat KUA lho Mas. Malah pas resepsinya saja keluarga dari Nganjuk dan Madiun pada datang," kata Sri Utami.
Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, Rokhim pun akan kembali menjalani profesinya sebagai buruh di kebun milik Perhutani. Tampi juga demikian, ia tetap membuka jasa pijat di rumahnya untuk membantu sang suami. Semoga hidup mereka sakinah, mawaddah wa rohmah. (fjp/fjp)












































Foto: Rokhim dan Tampi/Foto: In'am Tohari