Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh Emil melalui halaman Facebook resminya. Salah satu pertanyaan yang dijawab oleh Emil adalah apakah dirinya mengikuti Pilgub Jabar 2018 sekadar mengikuti ambisi alias 'syahwat' semata. Emil pun menolak disebut demikian.
"Orang berpikir ini semata syahwat politik? Kalau ikut syahwat mah Bandung sudah ditinggalkan ikut Nyagub di DKI kemarin. Tahun depan, 2018, itu saya menggenapkan tugas sebagai wali kota selama 5 tahun. Selesai on time," tulis Emil di Facebook, Senin (20/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa dengan partai ini, karena partai-partai terdahulu sudah dikomunikasikan, namun belum ada jawaban. Belum pasti juga mau. Masing-masing punya jadwal dan prosedur sendiri yang harus dihormati. Boro geer, gede rasa pasti didukung, apek teh ternyata teu jadi?" ungkapnya.
Emil menyadari pilihan politiknya maju sebagai cagub Jabar menuai pro dan kontra. Namun dia mengungkapkan pernah mengalami hal itu ketika mencalonkan diri sebagai Wali Kota Bandung pada 2013.
Bahkan keputusannya itu menyebabkan hubungan pertemanannya dengan sejumlah rekan menjadi kandas.
"Saat itu dilalui saja prosesnya dengan ikhlas. Dan dibuktikan dengan bekerja dengan maksimal saat terpilih menjadi wali kota. Sebagian pertemanan itu tidak balik lagi," kata Emil. (nkn/erd)











































