Pemerintah Filipina Serukan Warganya Tinggalkan Irak
Selasa, 19 Apr 2005 16:05 WIB
Jakarta -
Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo menyerukan seluruh warganya yang bekerja di Irak untuk kembali ke tanah air. Pemerintah Filipina bahkan menyediakan transportasi gratis bagi ribuan pekerjanya yang ingin pulang.Seruan ini disampaikan setelah seorang pekerja Filipina tewas ditembak di Baghdad, beberapa hari lalu. Demikian seperti diberitakan kantor berita AFP, Selasa (19/4/2005).Juru bicara Arroyo, Ignacio Bunye mengatakan, penembakan warga Filipina itu dianggap sebagai "peringatan bahwa situasi di Irak masih tetap berbahaya bagi rakyat kami."Rey Torres tewas ditembak beberapa pria bersenjata pada Minggu (17/4/2005) lalu. Warga negara Filipina itu bekerja sebagai supir dan penjaga keamanan di sebuah kamp militer AS di ibukota Baghdad. Pembunuhan Torres merupakan serangan kedua yang merenggut nyawa warga Filipina dalam sepekan terakhir di negeri bekas rezim Saddam Hussein itu.Bunye mengungkapkan, Departemen Luar Negeri dan Tenaga Kerja Filipina siap untuk membantu memfasilitasi pemulangan warga Filipina yang ingin meninggalkan Irak.Menurut perkiraan pemerintah Filipina, setidaknya ada enam ribu warga Filipina yang mengadu nasib di Irak. Pemerintahan Arroyo telah mengeluarkan larangan bepergian ke negara itu menyusul penculikan Angelo de la Cruz, seorang supir truk pada Juli 2004 lalu, serta Roberto Tarongoy, akuntan, pada November lalu.Para penculik kemudian membebaskan de la Cruz setelah pemerintah Manila menarik pasukannya dari Irak. Sementara Tarongoy hingga kini masih disandera oleh kelompok bersenjata yang menculiknya.
(ita/)










































