"Saya sudah bertemu dengan 4 tersangka. Alasan mereka itu, pertama, kepuasan biologi, dan (kedua) uang. Uang karena mereka meng-upload, kemudian disebar dan mendapat USD 15 per konten," kata Kak Seto saat mengunjungi Mapolda Bali, Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Jumat (17/3/2017).
Kak Seto menambahkan salah satu pelaku yang masih di bawah umur menyatakan pernah menjadi korban kekerasan seksual juga sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami serahkan seluruhnya pada kepolisian, tapi kewaspadaan ini kami lihat fenomena gunung es. Mungkin di Kalimantan, Sumatera, dan tempat lain tidak mungkin tidak ada hal serupa," jelasnya.
Selain terkait dengan kasus pornografi anak, kedatangan Kak Seto menemui Kapolda Bali Irjen (Pol) Petrus R Golose untuk membahas prostitusi online yang marak akhir-akhir ini.
"Kami koordinasi saja mengenai perlindungan anak dan masih hangat isu mengenai prostitusi online. Kelihatan anak di rumah diam tapi tanpa sadar anak tengah dibujuk rayu atau melihat gambar-gambar tidak pantas yang diedarkan oleh predator," ujar Kak Seto.
Menurut Kak Seto, orang tua harus mengajak serta orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan anaknya, seperti guru, orang tua kawan bermain si anak, dan lingkungan tempat tinggal, sehingga kegiatan anak bisa terpantau.
"Memberdayakan kembali peran keluarga, mohon orang tua tidak satu pun mengatakan tidak punya waktu untuk anak, tapi mau punya anak. Anak perlu persahabatan dengan orang tua, karena seperti kasus Emon, 50 persen korbannya membela Emon," ucap Kak Seto. (vid/rna)











































