"Waktu itu kami mau berangkat haji dari Berlin, ikut kuota jemaah haji Eropa karena suami sedang bertugas di Jerman," kata Maria, yang lama meniti karier sebagai wartawati di Asahi Shimbun, Jumat (17/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Tapi) walaupun belum pergi haji atau umrah, namun jika hati kita dekat dengan Kakbah dan Mekah, itu tandanya kita sudah haji. Mengerti kan Mas, artinya," kata Maria, mengulangi nasihat Kiai Hasyim kepada suaminya.
Atas segala nasihat tersebut, Maria menafsirkan bahwa untuk berhaji, tak cukup siap fisik dan materi. Hal yang lebih penting adalah hati dan jiwa yang dekat Mekah dan Kakbah.
"Jadi saya dan suami menafsirkan nasihat sesepuh NU itu bahwa perkara naik haji bukan cuma sekadar menunaikan kewajiban karena telah mampu secara ekonomi," tutur Maria, yang pernah menimba ilmu di Kanazawa University.
Sebelum ke Berlin, waktu itu Hasyim sebagai Ketua International Conference of Islamic Scholars Indonesia (ICIS) mengikuti 'Dialog Lintas Iman' di Polandia. Dia datang bersama tokoh dari kalangan agama Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddha.
Dialog itu diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama, dengan negara-negara mitra. Kegiatan semacam itu merupakan bagian dari soft diplomacy sejak 2002 untuk meluruskan kesalahpahaman Barat mengenai Islam. Khususnya sejak peristiwa 11 September 2001 di New York.
Hasyim Muzadi meninggal dunia pada Kamis (16/3) kemarin. Mantan Ketua Umum PBNU itu meninggal dalam usia 72 tahun. (jat/erd)











































