Monolog 'Matinya Seorang Pejuang, Tribute to Munir', Kamis

Monolog 'Matinya Seorang Pejuang, Tribute to Munir', Kamis

- detikNews
Selasa, 19 Apr 2005 13:53 WIB
Jakarta - Mau nonton pentas seni sambil mengenang aktivis HAM Munir? Datanglah ke Bentara Bundara, Jl. Palmerah, Jakarta Selatan, pada Kamis (21/4/2005) pukul 19.30 WIB. Saat itu akan digelar monolog dan diskusi publik bertajuk "Matinya Seorang Pejuang, Tribute to Munir". Monolog dan diskusi publik ini digelar oleh Komite Aksi Solidaritas untuk Munir. Komite ini merupakan penjelmaan dari Komite Solidaritas untuk Marsinah, elemen yang dibentuk dibentuk Munir semasa memperjuangkan kasus buruh Marsinah.Monolog akan disutradarai Landung Simatupang dengan aktor Whani Darmawan. Sedangkan diskusi publik menghadirkan Suciwati (janda Munir) dan Asmara Nababan (anggota TPF kasus Munir) sebagai pembicara, sedang moderatornya Rieke Dyah Pitaloka alias si Oneng.Rencana menggelar pentas seni untuk mengenang Munir ini disampaikan keluarga dan kolega almarhum Munir dalam jumpa pers di Kontras, Jl. Bobudur, Jakarta, Selasa (19/4/2005). Hadir dalam jumpa pers, antara lain, Suciwati, Usman Hamid, Asmara Nababan, dan Landung Simatupang.Menurut Landung, acara ini digelar untuk mengingatkan bahwa di tengah bencana alam yang mengguncang Tanah Air belakangan ini, pengusutan tuntas terhadap kasus Munir dan kasus pelanggara HAM lainnya harus tetap berjalan.Tentang pengalihnamaan Komite Aksi Solidaritas untuk Marsinah menjadi untuk Munir, Landung menyatakan, "Esensi kasus Munir dan Marsinah sama. Yaitu reaksi pemerintah dalam menanggapi kasus-kasus HAM," katanya.Sementara Usman Hamid menjelaskan monolog ini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Munir semasa hidupnya. "Ini adalah cara untuk mencari keadilan. Memang melelahkan. Tapi untuk mendapatkan kebenaran ke ujung dunia pun harus kita kejar," kata Usman.Monolog ini sudah dipentaskan sebelumnya di beberapa kota, antara lain Yofgyakarta, Malang, Surbaya, Denpasar, dan Mataram. Pentas ini merupakan patungan beberapa donatur, seperti novelis Ayu Utami, Kontras, dan Yayasan Thifa. (gtp/)


Berita Terkait