Maarif Institute Bedah Jihad dan Terorisme Lewat Buku

Maarif Institute Bedah Jihad dan Terorisme Lewat Buku

Galang Aji Putro - detikNews
Jumat, 17 Mar 2017 05:21 WIB
Maarif Institute Bedah Jihad dan Terorisme Lewat Buku
Foto: Galang Aji Putro/detikcom
Jakarta - Maarif Institute memandang adanya kekeliruan dalam memahami doktrin dan ajaran Islam. Hal itu kemudian memicu timbulnya aksi teror dan radikalisme yang mengatasnamakan Islam.

Maarif Institute meluncurkan buku berjudul 'Reformulasi Ajaran Islam: Jihad, Khilafah, dan Terorisme' yang ditulis oleh 21 tokoh muda Muhammadiyah dan cendekiawan muslim. Judul buku ini memang terdengar kontroversial, bahkan oleh para penulisnya sendiri.

Dr Izza Rohman mengaku agak terusik saat membaca judul buku itu. Cendekiawan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka yang juga merupakan salah satu penulis buku itu menilai judul buku tersebut terkesan membenarkan terorisme sebagai ajaran Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Judul itu mungkin tidak membantu disasosiasi Islam dan terorisme, antara jihad dan terorisme," ujarnya di Gedung Dewan Dakwah PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (16/3/2017) malam.

Dia menilai ada yang menarik pada bahasan mengenai jihad. Menurutnya, para pelaku teror tidak tertarik pada diskusi-diskusi terhadap pemahaman kitab suci Al-Quran.

"Para teroris itu menggunakan teori yang sangat problematik, yaitu menggunakan satu wahyu tanpa memandang wahyu lain. Mereka menganggap Al-Quran sebagai lisensi untuk melakukan kekerasan. Padahal jihad yang paling utama itu adalah jihad untuk menyampaikan kandungan Al-Quran, bukan dengan perang," imbuhnya.

Sementara itu, penulis lain yang sekaligus cendekiawan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Debbie Affianty, menyoroti tren global perempuan yang menjadi pelaku teror. Menurutnya, ada perbedaan antara teroris dan 'jihadis'.

"Teroris itu lebih berhaluan ideologi marxis dan sekuler-nasionalis. Kalau 'jihadis' lebih pada cara mereka memanipulasi ayat Al-Quran dalam melancarkan aksinya," katanya.
Maarif Institute Membedah Jihad dan Terorisme Lewat BukuFoto: Galang Aji Putro/detikcom

Debby mengatakan banyak pola keterlibatan perempuan dalam terorisme. Dia beranggapan perempuan bisa menjadi penentu gerakan radikal tersebut sebagai agen propaganda yang saat ini menjamah media sosial.

"Selain sebagai loyal follower, mereka agen propaganda dan rekrutmen. Contohnya istri ketiga Bahrumsyah, yang tertangkap saat akan ke Suriah. Dia menjadi loyal follower dan akan memproduksi calon 'jihadis' ISIS," ucapnya.

"Mereka menggunakan media sosial karena anak muda tertarik dengan itu. Mereka mengemas propaganda dengan pop culture. Kadang rubrik kecantikan juga dikemas dengan ajaran postmo jihad," lanjutnya.

Cendekiawan UIN Jakarta Dr Abdul Moqsith Ghozali menganggap terorisme tidak hanya berangkat dari argumen yang berasal dari Al-Quran, namun juga dipicu oleh persoalan ekonomi dan politik. Dia pun turut menyoroti judul buku itu.

"Judulnya nggak main-main, yang direformulasi ajaran Islam, bukannya pemahaman terhadap ajaran Islam," katanya.

Dia menilai buku yang ditulis oleh banyak orang itu memiliki kerugian tersendiri. Selain itu, dia menyayangkan penulisan buku tersebut hanya melibatkan seorang 'mantan' teroris.

"Kerugian buku yang ditulis secara gotong-royong itu argumen satu bisa berbeda dengan argumen lain. Saya tidak melihat satu tokoh kecuali Nasir Abbas, yang sebelumnya terlibat dalam terorisme di Indonesia yang kemudian bertobat dan dilibatkan dalam penulisan buku ini," tuturnya.

Dia pun menganggap para teroris memandang Al-Quran dari sisi yang berbeda. Menurutnya, aksi teror dan radikalisme itu dilatarbelakangi oleh salah satu surat di dalam Al-Quran yang tidak dipahami secara benar.

"Kalau kita tanya ke mereka (teroris, red), Al-Quran tidak hanya menjadi rahmatan lil alamin, tapi ada ayat-ayat lain yang menjadi dinamit menyeramkan jika dilucuti dari konteksnya secara utuh," katanya.

"Yang paling disukai teroris adalah surat Al-Mumtahanah. Dilucuti ayatnya, seperti anjuran peperangan dan memusuhi umat yang berbeda," lanjutnya.

Dalam acara itu, turut hadir Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Komjen Luthfi Lubihanto, sejarawan Anhar Gonggong, dan beberapa tokoh lintas agama.
Halaman 2 dari 2
(gla/bag)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads