DetikNews
Kamis 16 Mar 2017, 18:13 WIB

Diprotes ACTA, Sumarsono Ungkap Alasan Copot Spanduk Provokatif

Galang Aji Putro - detikNews
Diprotes ACTA, Sumarsono Ungkap Alasan Copot Spanduk Provokatif Foto: Gibran Maulana Ibrahim/detikcom
Jakarta - Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) rencananya akan melaporkan Plt Gubernur DKI Sumarsono (Soni) terkait pencabutan spanduk provokatif. Soni pun angkat bicara.

Menurut Soni, pencopotan itu dilakukan karena spanduk-spanduk tersebut bernada provokatif. "Sesuatu yang sifatnya mungkin tidak tertib, terus kemudian melanggar aturan-aturan, provokatif, dan bermotif SARA, walaupun itu otonomi masjid, bukan berarti kemudian bebas dari aturan, karena masjid itu dibangun di wilayah DKI Jakarta," ujarnya kepada wartawan di kantor Wali Kota Jakarta Utara, Jl Laksda Yos Sudarso, Jakarta Utara, Kamis (16/3/2017).

Menurut Soni, spanduk-spanduk itu tidak akan dicopot jika memiliki tujuan yang positif. Selain itu, pencopotan dilakukan karena spanduk-spanduk itu dianggap melanggar ketertiban umum.

"Jadi cara berpikirnya adalah secara fungsi itu apa manfaatnya. Kalau memang baik, tidak jadi masalah. Misalnya berisi ajakan 'Mari kita mengajak sholat berjemaah', itu kan bagus. Dan itu dari segi perspektif pelayanan publik yang sifatnya pasti melanggar kepentingan umum. Soal dipajang di masjid, rumah, gereja, atau di mana pun, kalau melanggar menurut ketertiban umum, ya harus diturunkan," imbuhnya.

Soni pun mempersilakan pihak-pihak yang merasa dirugikan untuk melakukan klarifikasi. Menurutnya, langkah pencopotan spanduk itu juga sudah disetujui Jusuf Kalla selaku Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI).

"Setiap hari saya ngomong begini, dia bisa klarifikasi di media, dia bisa tulis surat. Yang penting saya dengan Dewan Masjid Indonesia sudah duduk bersama dan Pak Jusuf Kalla sebagai Ketua DMI sudah mengimbau untuk mencopot spanduk-spanduk tersebut," katanya.

"DMI Jakarta sudah kami kumpulkan, kita bicarakan, mereka juga sudah buat edaran. Kita berdialog dan mereka sudah bersepakat dengan saya sebagai Plt Gubernur DKI dan saya terima kasih, hampir sebagian besar masyarakat mendukung langkah-langkah Pemprov untuk menetapkan ini semua," lanjutnya.

Hingga Kamis siang, Pemprov DKI melalui Satpol PP telah menertibkan sebanyak 420 spanduk provokatif. Soni menyatakan akan terus gencar melakukan pencopotan terhadap spanduk-spanduk itu.

"Siang ini 420 spanduk. Pokoknya terus digencarkan penurunannya, separuh oleh masyarakat, separuh oleh Satpol PP, dengan pola kalau ada masyarakat dengan kesadaran menurunkan, itu dipersilahkan. Kalau tidak ada masyarakat, berarti kita yang turunkan," ucapnya.

Sementara itu, ACTA menyatakan pembelaan terhadap warga yang memasang spanduk tersebut. Menurut Ketua ACTA Krist Ibnu T Wahyudi, selaku kuasa hukum warga, pemasangan spanduk tersebut masih dalam koridor hukum karena hanya menunjukkan sikap mereka sebagai muslim. Sikap itu didasari ajaran Al-Quran.

"(Spanduk itu, red) tidak berbentuk paksaan terhadap orang lain untuk mengikuti sikap mereka. Spanduk itu juga tidak berisi hinaan atau tindakan diskriminasi kepada suku, agama, dan ras tertentu," kata Ibnu dalam keterangannya, Kamis (16/3).

"Perlu kami ingatkan, hak menjalankan ajaran agama merupakan hak konstitusional semua warga negara yang diatur dalam Pasal 28E ayat 1 UUD 1945," sambungnya.
(gla/erd)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed