Nama Korban Tewas dan Luka Akibat Ditabrak KA Argo Muria
Selasa, 19 Apr 2005 11:50 WIB
Jakarta - Enam korban tewas akibat ditarak KA Eksekutif Argo Muria di daerah Jatinegara, Jakarta Timur. Sembilan korban lainnya luka. Sampai pukul 11.30 WIB, Selasa (19/4/2005), dari enam mayat korban tewas, tiga di antaranya sudah dibawa pulang ke daerah asal mereka. Sedangkan tiga mayat masih berada di kamar mayat RSCM, Jakarta Pusat. Sedangkan 9 korban luka masih ditangani di Unit Gawat Darurat (UGD) RSCM. Delapan orang dalam keadaan sadar, sedangkan seorang korban masih koma. Mereka mengalami luka parah. Berikut nama-nama korban tewas: 1. Farti (30), alamat RT 21/11 Kelurahan Tanjung Priok2. Rohata (40), alamat RT 21/11/ Kelurahan Tanjung Priok3. Yayah Soliyoh (30) tanpa diketahui alamatnya. 4. Heny (40), alamat belum diketahuiDua korban tewas lainnya belum teridentifikasi. Diperkirakan, dua korban tewas itu berumur 40 dan 50 tahun. Sedangkan nama-nama korban luka yang masih dirawat di UGD RSCM adalah:1. Nyonya Amsyah (40), alamat RT 21/11 Kelurahan Tanjung Priok. Saat ini, korban masih dalam keadaan koma. 2. Lanai (20), laki-laki, alamat Kramat Jati Rt 12/3, Jakarta Timur3. Ratiah (30), perempuan, alamat tidak diketahui4. Nafrizal (35), laki-laki, (35), Kampung jembatan 42, RT 08 RW 1 Cakung5. Worni (70), Suramaya, Cikampek6. Zainah (40), Kebon Singkong, Rt 05/RW 1 Klender, Jakarta Timur7. Romy (30), laki-laki, Gunung Antang, Jatinegara 8. Sutiah (37), alamat tidak diketahui 9. Latif (33), Tanah Rendah, RT 12/RW 07Kisah mengenaskan ini terjadi di pinggir rel KA di Kampung Gunung Antang, antara Stasiun KA Jatinegara (Jakarta Selatan) dengan Stasiun KA Manggarai (Jakarta Pusat). Kala itu jam menunjukkan pukul 02.48 WIB, Selasa (19/4/2005). Kawasan itu selalu ramai tiap hari mulai gelap. Warung remang-remang berdiri mendadak menyuguhkan hiburan kelas bawah. Ada yang jualan minuman, makanan, hingga transaksi seksual. Biasanya, KA akan melewati rel di jalur kiri. Namun, pada saat kejadian, KA melewati jalur kanan, karena ada perbaikan di jalur kiri. Dan tampaknya, warga di warung-warung remang itu tidak menyadari bahaya yang mengancam mereka.
(asy/)











































