(Baca juga: Seorang Bocah TK Diterkam Harimau di Museum Satwa Jatim Park II)
"Kadang sang pawang tidak kontinu melakukan penguatan yang positif. Perilaku dalam proses belajar satwa ada penguatan behaviour. Biasanya kalau melakukan sesuatu, hewan dikasih hadiah, dia akan kuat perilaku itu. Kadang berfoto sudah kebiasaan, tapi ketika misalnya ada penguatan yang nggak berjalan, cenderung kembali ke tingkah laku awal. Kelas umur, sejarah harimau, juga penting dianalisis," ujar ahli tingkah laku hewan Fakultas Kehutanan IPB Ir Dones Rinaldi, MSc, saat dihubungi, Rabu (15/3/2017) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau berfoto dikasih hadiah, mungkin enjoy. Kalau hadiahnya berkurang itu dalam penguatan perilaku ada punishment and reward, punishment misal kalau melakukan itu harus dihukum, tapi dalam teori satwa hukuman harus sesedikit mungkin," terang Dones.
(Baca juga: Anak Harimau yang Menerkam Putri Jenis Benggala Umur 6 Bulan)
Dones mengimbau agar satwa buas tidak terlalu dieksploitasi. Faktor usia dan tempat lahir merupakan faktor lain yang mempengaruhi agresivitas hewan.
"Saya cenderung semua binatang buas jangan dieksploitasi. Makanya usia hewan penting, juga dia lahir di kebun binatang atau pernah di alam. Naluri hewan buas, kalau sudah timbul, sulit diperbaiki," tutupnya. (dkp/nkn)











































