Pasukan RI tersebut tersebut berjumlah 139 orang. Mereka adalah kontingen Indonesia yang bertugas di African Union-United Nations Mission in Darfur (Unamid), tergabung dalam pasukan Formed Police Unit (FPU) VIII Indonesia.
Ada empat orang yang rencana menikahnya tertunda. Namun, empat orang tersebut tidak ada hadir dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
John mengatakan tidak ada masalah selama bertugas di Darfur, Sudan. Pasukan FPU RI paling diterima di Sudan dan paling dipercaya di Unamid. Mereka dipercaya karena dekat dengan masyarakat dan melaksanakan tugas dengan baik.
"Tugas di sana paling utama kedisiplinan dan daya tahan pada saat bekerja di medan yang panas dan tandus, kita harus bertahan bertugas selama setahun. Suhunya sampai 50 derajat harus di lapangan, banyak kontingen di negara lain tidak bisa bertahan untuk melaksanakan tugasnya," ujarnya.
FPU VIII berada di kota El Fasher. Kata John, mereka ditempatkan di jalur utama yang pada tahun-tahun sebelumnya sering terjadi perampokan kendaraan di jalur itu. Lalu, diadakan pembatasan akses ke luar kepada seluruh anggota UNAMID yang menggunakan kendaraan untuk ke luar berkendaraan harus dikawal.
"Salah satu tugas kita mengawal personel yang ke luar masuk camp. Yang dikawal FPU VIP misalnya police commisioner maupun senior management lain ataupun tamu-tamu dari Newyork (PBB) mereka selalu meminta dari FPU Indonesia," ujarnya.
Kemudian, mereka juga mengamankan satu zona bernama Zone Wardan. Sebuah lokasi yang tingkat kriminalitasnya tinggi. Mereka dipercaya untuk melaksanakan tugas di pada siang hari. Sedangkan malam hari hanya diawasi militer.
"Memang yang terberat di siang hari kita berpatroli di tempat yang tidak ada perlindungan mataharinya. Itu hanya pohon yang gersang, daun gugur. Selama berbulan-bulan memang akhirnya kita terbiasa dengan kondisi tersebut," katanya.
Menurut John, mereka dekat dengan masyarakat termasuk polisi lokal. Dengan masyarakat, mereka berkali-kali mengadakan kegiatan amal yang berkaitan dengan kemanusian dengan tujuan agar diterima di tempat bertugas.
Pasukan RI yang bertugas di Sudan berjumlah 139 orang. Foto: idham/detikcom |
"Selama di sana kita tidak menemukan masalah dengan masyarakat dan dengan polisi lokal juga begitu," tuturnya.
Pasukan ini tertahan di Bandara El Fasher karena dituduh menyelundupkan senjata. Selama kepulangan tertunda itu, mereka ditempatkan di transit camp. Kebutuhan mereka juga dilengkapi sambil menunggu selesai proses pemeriksaan dari joint investigation team, tim gabungan antara UNAMID dengan tim bantuan hukum Indonesia yang Sudan.
"Proses tersebut memang cukup memakan waktu. Mengenai siapa yang indikasi senjata, saya tidak bisa memberikan informasi. Kita tidak bisa berandai-andai,"
"Saya mengucapkan atas nama pasukan FPU VIII yang bertugas di Sudan, kami ucapkan terima kasih kepada lembaga dan seluruh rekan media yang selama ini membantu Polri untuk memberikan informasi tentang keberadaan di Sudan. Kami telah tiba sejak tanggal 5 Maret 2017 dan besok akan segera diadakan upacara pelepasan dan penyematan medali," imbuhnya. (aan/fdn)












































Pasukan RI yang bertugas di Sudan berjumlah 139 orang. Foto: idham/detikcom