Dubes China dan Said Aqil Isi Kuliah Umum di Universitas NU Cirebon

Tri Ispranoto - detikNews
Rabu, 15 Mar 2017 13:49 WIB
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengisi kuliah umum di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon, Jawa Barat. Said Aqil ditemani Duta Besar Republik Rakyat China (Dubes RRC) untuk Indonesia, Xie Feng.

Dalam acara tersebut, Xie Feng mengaku sangat senang bisa datang untuk pertama kalinya ke Cirebon. Dia menilai Cirebon merupakan kota tua di Indonesia yang memiliki sejarah dan budaya yang beragam juga keunggulan sumber daya yang melimpah.

"Rakyat di sini ramah, terbuka, dan toleran," ujar Xie Feng di UNU, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (15/3/2017).

Indonesia, kata Xie Feng, merupakan tetangga dan sahabat yang baik bagi China. Beberapa hal telah diikat dalam kerja sama sejak zaman jalur sutra maritim. Bahkan saat Presiden China, Xi Jinping, ke Indonesia pada tahun 2013 berkeinginan kembali membangun Jalur Sutra Maritim Abad 21 dan strategi Poros Maritim Dunia.

Untuk mewujudkan hal itu sejumlah kerja sama sudah mulai dilakukan mulai dari bidang infrastruktur, industri, perdagangan, investasi, finansial, dan e-commerce. Bahkan selama 6 tahun terakhir China telah menjadi mitra dagang terbesar bagi Indonesia.

"Investasi asal Tiongkok ke Indonesia meningkat 324 persen menjadi 2,7 miliar USD. Dan kini Tiongkok menjadi negara asal investasi terbesar ketiga dari posisi kesembilan," katanya.

Dari sisi agama, persahabatan antara China dan Indonesia pun sudah berjalan sejak lama. Dimulai dari tahun 671, seorang biksu Buddha era Dinasti Tang bernama I Tsing pernah berkelana ke India mencari kitab suci melewati Palembang. Saat perjalanan pulang ke China, I Tsing pernah belajar dan berkeliling di Pulau Sumatera selama 7 tahun. Sementara Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke 14, 4 di antaranya konon masih memiliki dan berasal dari China.

Saat ini di Tiongkok terdapat 21 juta umat muslim yang tersebar di berbagai daerah. Sedikitnya ada 35 ribu masjid dan 45 ribu imam. Bahkan dalam DPR dan MPR di tempat mereka bermukim sudah ada perwakilan dari para umat muslim.

"Mereka ikut menyusun undang-undang, diskusi kebijakan negara, dan menyampaikan pendapat serta saran kepada pemerintah terutama dalam bidang keagamaan," tuturnya.

Tidak hanya itu pemerintah China pun setiap tahun menyelenggarakan pemberangkatan haji ke Makkah terhadap belasan ribu umat muslim per tahunnya. Bahkan saat ini sudah ada penetapan peraturan mengenai makanan halal dan makam-makam khusus untuk umat Muslim.

"Nabi Muhammad pernah mengatakan tuntutlah ilmu walau pun sampai ke negeri Tiongkok. Bagi kami tuntutlah ilmu hingga ke negeri Indonesia. Dan kedatangan saya ke sini bukan untuk memberi ilmu tapi mencari ilmu," jelas Xie Feng.

Sebagai penutup, Xie Feng pun menyampaikan jika pemerintah China akan menawarkan 10 beasiswa langsung kepada warga NU. Selain itu khusus UNU Kota Cirebon, Kedubes China pun memberikan bantuan berupa 500 kursi dalam rangka memperbaiki fasilitas belajar di Indonesia.

Sementara itu Said Aqil membeberkan pentingnya kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Pasalnya sejak era Sumpah Pemuda, Sumpah Palapa, majapahit, semua memiliki keterkaitan yang erat dengan pasukan asal negeri tirai bambu tersebut.

"Kalau kita tidak berhubungan baik kita rugi secara ekonomi dan budaya. Di era keterbukaan ini, NU menjadi pelopor bahkan paling terdepan sebagai Islam yang toleran, moderat, dan ingin mempererat persaudaraan muslim dan umat beragama dunia," ucapnya.

Sebagai agama mayoritas di Indonesia, NU berkomitmen akan terus melindungi kaum minoritas seperti masyarakat Tionghoa terkecuali mereka yang menyalahi undang-undang dan terlibat hal radikal. "Teroris walau pun Islam mereka musuh kita," pungkas pria yang juga Rektor UNU Kota Cirebon itu. (dhn/dhn)