DetikNews
Rabu 15 Maret 2017, 11:29 WIB

Bikin Film Pendek 'Suap', Polisi Ingin Mengedukasi soal Integritas

Mei Amelia R - detikNews
Bikin Film Pendek Suap, Polisi Ingin Mengedukasi soal Integritas Foto: Dok. Istimewa
Jakarta - Banyak cara bisa dilakukan oleh jajaran kepolisian dalam rangka mengedukasi masyarakat, terutama pengguna jalan yang kerap melanggar lalu lintas. Salah satunya membuat film pendek.

Cara itu diterapkan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Besar dengan menggarap sebuah film pendek berjudul 'Suap'. Sesuai dengan judulnya, film itu menceritakan praktik suap-menyuap yang harus dihindari.

"Judulnya memang kontroversi, dan mungkin sebagian masyarakat menganggap itu tabu. Tetapi di sini kami ingin menyampaikan pesan moralnya kepada polisi dan masyarakat di Indonesia. Sudah waktunya kita terbuka. Untuk masyarakat tidak usah kita alergi tentang hal itu, tetapi mari kita hilangkan budaya suap itu," kata Kasat Lantas Polres Aceh Besar Iptu Sandy Titah Nugraha saat dihubungi, Rabu (15/3/2017).

Kisah Nyata

Film yang disutradarai langsung oleh Titah ini diangkat dari sebuah kisah nyata pengalaman Aipda Salahuddin saat menilang seorang warga bernama Ramli. Salahuddin sendiri terlibat dalam film tersebut sebagai polisi lalu lintas.

Film berdurasi 15 menit ini mengisahkan kehidupan seorang ayah bernama Ramli dan putrinya, Nayla, yang miskin. Ramli, yang diperankan oleh Bob, adalah seorang pemulung yang hidup dari mengumpulkan kardus dan botol bekas. Bob sendiri adalah penjual kue keliling di Aceh Besar sehingga lebih menjiwai perannya.

"Jadi ini diangkat dari kisah nyata, pengalaman Pak Salahuddin menilang seorang bapak bernama Ramli, orang miskin. Belakangan diketahui yang bersangkutan dan putrinya itu sudah meninggal karena bencana tsunami tahun 2006 silam," terang Titah.

Adapun peran Nayla dibintangi oleh Nayla Ashilah, anak seorang polisi. Dalam film tersebut, Nayla berperan sebagai anak sekolah dasar (SD) yang hidup miskin, yang tidak punya tas untuk buku-bukunya. Dia hanya menggunakan kantong kresek setiap hari.

Hingga suatu waktu, Nayla berulang tahun. Ramli ingin membahagiakan putrinya pada hari ulang tahunnya itu dengan memberikan kado sebuah tas. Beberapa hari menjelang ulang tahun putrinya itu, Ramli mengumpulkan uang dari hasil memulung dan menyisihkannya untuk membeli sebuah tas.

Setelah terkumpul uang yang cukup untuk membelikan sebuah tas, Ramli kemudian pergi ke pasar. Ia meminjam motor tetangganya karena jarak antara rumah dan pasar cukup jauh.

Di tengah perjalanan, Ramli disetop oleh polisi lantaran tidak memakai helm dan surat-surat kendaraan pun tidak ada. Ramli memohon kepada polisi tersebut untuk tidak mengandangkan motor tetangganya itu.

Di tengah kondisi itu, Ramli mengalami dilematis. Satu sisi, dia merasa bertanggung jawab atas motor tetangganya, di sisi lain, dia harus kehilangan uang untuk kado Nayla karena hendak menyuap polantas tersebut.

Lalu, bagaimana akhir kisah haru ini? "Ending-nya nanti dong. Kalau saya kasih tahu sekarang, masyarakat jadi tidak penasaran dong... he-he-he...," sambung Titah.

"Yang pasti, masyarakat pasti sedih kalau nonton film ini. Pimpinan saya saja sampai menangis nonton trailernya," kata Titah.

Film tersebut akan diputar perdana di kampus di Aceh Besar pada Kamis (16/3) besok, dengan mengundang masyarakat, sivitas akademika, dan komunitas pencinta perfilman. Film edukatif ini akan diputar secara gratis. Sementara untuk trailernya sudah tersebar di media sosial, salah satunya di akun Instagram Korlantas.

Sosialisasi Edukasi

Film tersebut adalah gambaran realitas di lapangan. Di mana polisi lalu lintas yang bertugas di lapangan sangat rentan akan praktik suap-menyuap. Adanya film ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat bahwa suap itu dilarang dan sanksinya pun cukup berat.

Film ini merupakan terobosan kreatif dari Satlantas Aceh Besar dalam mensosialisasi segala hal tentang lalu lintas dan tata tertib berlalu lintas serta keselamatan dan keamanan pengendara dalam berlalu lintas.

Satlantas Aceh Besar gencar mensosialisasi ketertiban berlalu lintas melalui media sosial dengan garapan yang lucu-lucu. Tetapi efektifkah sosialisasi ini dalam menekan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di Aceh Besar?

"Kalau untuk kecelakaan--saya mulai menjabat Januari 2016--sampai sebelum kita viral di media sosial itu ranking 4 di Aceh. Masuk ke tahun 2017 imbas kita edukasi nyeleneh, itu datanya tidak ada ngarang-ngarang, itu berkurang 50 persen. Januari 2016 ada 14 laka lantas, dan Januari 2017 itu tinggal 7 laka lantas," terang dia.

Titah tidak akan berhenti mengedukasi masyarakat akan pentingnya kesadaran dalam berlalu lintas. "Saya yakin di mana pun pasti ada pelanggaran, tapi kita tidak bosan untuk terus mengedukasi masyarakat. Artinya, kita tidak melulu menilang, tetapi juga dengan memberikan edukasi," tuturnya.
(mei/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed