Media Soroti Anwar Nasution

Media Soroti Anwar Nasution

- detikNews
Selasa, 19 Apr 2005 09:17 WIB
Jakarta - Kasus suap Mulyana W Kusumah masih saja membetot atensi meski telah memasuki minggu kedua. Selasa (12/4/2005) ini, sejumlah media massa di Jakarta khusus menyoroti kontroversi Ketua BPK Anwar Nasution.Bahkan sejumlah media menulis sikap keras Anwar terhadap Khairiansyah Salman khusus di halaman ediorial, yang merupakan pendapat/kebijakan media tersebut pada isu tertentu. Harian Media Indonesia milik Surya Paloh misalnya, menurunkan tajuk rencana berjudul "Anwar vs Khairiansyah".Editorial itu semula memuji sikap Anwar yang selama ini dikenal berani, berintegritas dan dikenal dengan ucapannya "BI adalah sarang penyamun" ketika dia ditunjuk sebagai Deputi Senior Gubernur BI."Setelah keluar dari BI dan sekarang memimpin Badan Pemeriksa Keuangan, Anwar lupa melapor kepada publik apakah dia telah berhasil mengusir para 'penyamun' di BI. Malah, di BPK, Anwar menciptakan kontroversi baru ketika anak buahnya sedang bertarung dengan para 'penyamun'," tulis koran yang disebut Media itu.Lebih lanjut dikatakan, "Di tengah sorotan terhadap KPU yang bertubi-tubi, di tengah apresiasi terhadap Khairiansyah --dan tentu saja kepada BPK-- Anwar Nasution bersuara lain. Khairiansyah diberi peringatan karena dianggap telah melanggar prosedur kerja sebagai auditor. Peringatan itu diumumkan kepada publik pula.Banyak alasan Anwar yang mengundang perdebatan. Selain menganggap Khairiansyah melanggar prosedur, Anwar mengatakan anak buahnya itu bukan anggota masyarakat yang memiliki kewajiban melaporkan tindak korupsi kepada aparat berwenang. Selain itu, ada pertimbangan lain dari Anwar, yaitu KPU yang dinilai dunia internasional telah sukses menyelenggarakan Pemilu 2004, harus diperlakukan dengan hati-hati."Menurut Media, salah satu kelemahan mendasar dalam pemberantasan korupsi di Indonesia adalah pijakan pada kebenaran formal yang mengalahkan kebenaran substansial. "Kita tentu saja kecewa bila seorang Anwar Nasution, yang dikenal sangat peduli pada pemberantasan korupsi, tiba-tiba terseret pada paham kebenaran formal sehingga mengabaikan kebenaran substansial," tandasnya.Pemberantasan korupsi, lanjut Media, membutuhkan keberanian semua pihak untuk menerobos pikiran sesat tentang kebenaran formal semata itu. Seorang Khairiansyah memberikan terobosan yang berani dan berharga. "Terobosan seperti ini kita harapkan juga tumbuh dari aparat pajak, sektor yang sangat membuka luas persekongkolan dengan wajib pajak. Sayang kalau keberanian berharga dari Khairiansyah dipangkas oleh kredo prosedural," kata Media.Senada dengan Media Indonesia, editorial RRI yang dibacakan dalam siaran berita pukul 06.00 WIB juga memuji keberanian Khairiansyah dan berpendapat jangan terlalu kaku memegang aturan yang terlalu prosedural, tapi pandanglah hal-hal yang lebih bersifat substansial.Sejumlah radio juga menggelar talkshow dengan tema serupa. Misalnya Radio Ramako yang sebelum memulai talkshownya juga membacakan editorialnya dengan nada setali tiga uang.Harian Republika mengambil judul "Khairiansyah dan Pemberantasan Korupsi" sebagai tajuk rencananya. "Sungguh memprihatinkan nasib yang menimpa Khairiansyah. Maksud baik melaporkan tindak penyuapan, justru berbuah sanksi," begitu Republika membuka opininya.Republika menulis, tindakan Khairiasyah itu melahirkan pro dan kontra. "Yang menyayangkan tindakan Khairinasyah, antara lain, justru datang dari bosnya sendiri. Yakni Ketua BPK Anwar Nasution. Boro-boro bangga atas sikap dan tindakan anak buahnya yang telah membongkar kasus penyuapan, Anwar Nasution malah akan memberi sanksi kepada Khairiansyah. Nasution menilai tindakan Khairiansyah telah melanggar aturan dan tidak prosedural. Menurutnya, tindakan Khairiansyah membongkar kasus suap hanyalah untuk mencari popularitas. "Di mata saya, dia bukan pahlawan," ujar Nasution di Banda Aceh, Sabtu (16/4) lalu. Bahkan Nasution menyebut tindakan stafnya di BPK itu sebagai kampungan.Yang jadi pertanyaan, kata Republika, pelanggaran macam apa yang telah dilakukan Khairiansyah? Mungkin betul bahwa ia melanggar prosedur, tapi tuduhan mencari popularitas dan kampungan jelas merupakan tuduhan yang tidak proporsional dan bahkan keji, apalagi dari seorang ketua BPK yang diharapkan justru menjadi ujung tombak pengungkapan penyelewengan/korupsi uang negara.Sementara, Liputan 6 SCTV tak henti-hentinya mengulang pernyataan Anwar yang mengecam Khairiansyah sebagai auditor kampungan dan Anwar merasa dikentutin. Pernyataan Anwar itu itu dikatakan pada 14 April pagi, malam dan 15 April. Pada Senin siang kemarin, SCTV menyebut Anwar telah "berubah sikap" dengan menawarkan bantuan hukum pada Khairiansyah meski tetap mengecam Khairiansyah.Dalam penerbitan hari ini, banyak koran yang menurunkan statemen Anwar yang disitir dalam jumpa pers kemarin. Koran Tempo misalnya menulis headline "Ketua BPK: Tak Ada Deal". Alinea pertama berita itu adalah "Ketua BPK Anwar Nasution mengakui pernah bertemu dengan Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin, sebelum kasus dugaan penyuapan oleh Mulyana W Kusumah mencuat. Anwar tidak membantah pertemuan ini untuk membahas audit investigasi BPK terhadap dugaan korupsi di KPU".Tema yang sama dimuat Kompas di halaman pertamanya dengan judul "Dipertanyakan, Maksud Pertemuan Nazaruddin-Anwar". Alinea pertama berita tersebut berbunyi "Masyarakat Profesional Madani mendesak agar Ketua Komisi Pemilihan Umum Nazaruddin Sjamsuddin dan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution secara terbuka menjelaskan konstatasi dari banyak kalangan mengenai "adanya kesepakatan" menyangkut hasil audit investigatif yang dilakukan terhadap proses pengadaan barang dan jasa logistik Pemilu 2004." (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads