Hari Hak Asasi Manusia
Selasa 14 Maret 2017, 17:57 WIB

Meneladani Bung Hatta

Di Paris, Pilih Peugeot Ketimbang Mercy

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Di Paris, Pilih Peugeot Ketimbang Mercy Foto: Hasan Alhabsy
FOKUS BERITA: Meneladani Bung Hatta
Jakarta - Kota Paris, Prancis, Desember 1972. Salju turun dengan lebat mengiringi kedatangan Bung Hatta dan istrinya, Rahmi. Mereka singgah di Paris setelah si Bung menjalani cek kesehatan di Leiden, Belanda. Keduanya berencana menemui salah satu istri Sukarno, Ratna Sari Dewi, yang menetap di kota mode yang glamor itu.

Alijullah Hasan Jusuf, pemuda berdarah Aceh yang menjadi staf lokal di KBRI Prancis mendapat tugas menjemput Hatta di Bandara Le Bourget mendampingi Susiono, staf bidang protokol. "Saya sampai tak bisa tidur karena takut terlambat menjemput (sang) proklamator," kata Ali mengisahkan pengalamannya bertemu Hatta kepada detik beberapa waktu lalu.

Ia mengaku sangat tegang, bahkan merinding, selama menunggu di ruang VIP. Tangannya sontak gemetar ketika melihat Bung Hatta mulai memasuki ruangan. Tak pernah terbayangkan dia sebagai anak kampung bisa menyalami proklamator. Apalagi kemudian Bung Hatta memilih naik Peugeot 204 yang dikemudikan Ali, bukan Mercedes-Benz yang resmi disiapkan Kedutaan.

"Mercedes yang dikemudikan sopir Kedutaan, Boskin Angelo, hanya untuk membawa barang beliau," ujar Ali. Selama perjalanan menuju Hotel George V, Bung Hatta menanyakan asal-usul Ali. Keesokan paginya, Hatta mengundang Ali ikut sarapan.

Jauh sebelum itu, ketika menjabat perdana menteri, Hatta pernah menolak menggunakan mobil dinasnya untuk menjemput sang bunda yang sudah begitu lama tak ia temui. Padahal keluarganya di Sumedang, Jawa Barat sudah membayangkan Hatta akan datang menumpang kendaraan resmi jenis Buick disertai banyak wartawan yang akan meliput pertemuan. Tapi semuanya kecele. Hatta sangat rigid dalam membedakan urusan pribadi dan dinas kenegaraan.

"Tidak bisa. Pakai saja mobil Hasjim," kata Bung Hatta seperti ditulis dalam autobiografi pengusaha otomotif Hasjim Ning, "Pasang Surut Pengusaha Pejuang" karya sastrawan A.A. Navis, terbitan Grafiti Press, 1987.

Akhirnya, menurut Hasjim, yang masih merupakan keponakan Hatta, dirinyalah yang menjemput Mak Tuo (ibunda Bung Hatta) ke Sumedang. Padahal ia membayangkan, Mak Tuo pasti akan senang dan bangga bila Hatta-lah yang datang menjemput dan menemuinya langsung.

"Apa salahnya ibunda seorang perdana menteri naik mobil anak kandungnya? Siapa yang tak akan setuju? Malah rakyat pun akan menerimanya sebagai sesuatu yang wajar saja, karena rakyat menghormati pemimpinnya," begitu pikir Hasjim. "Mobil itu bukan kepunyaanku. Mobil itu milik negara," Hatta menukas.

Menurut putri sulungnya, Meutia Farida Hatta, si Bung mendapat jatah dua mobil dinas, yakni jenis Buick dengan nomor polisi B-17845 dan mobil dinas "Indonesia 2". "Rasanya aneh kalau orang lain (selain Bung Hatta) naik mobil dinas," ujarnya saat berbincang dengan detikcom di kompleks Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur beberapa waktu lalu. Bung Hatta hanya mengizinkan istri dan ketiga putrinya mengendarai mobil Dodge.


(pal/idh)
FOKUS BERITA: Meneladani Bung Hatta
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed