"Saya sempat mengingatkan sekretaris duta besar bahwa Bung Hatta tidak menyukai keterlambatan dari waktu yang telah ditentukan. Jadi duta besar itu harus datang tepat waktu," tulis Wangsa dalam buku "Mengenang Bung Hatta" terbitan Toko Gunung Agung, 2002.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata si duta besar baru datang pukul 11 kurang 10 menit. Wangsa pun dengan tergopoh langsung memberitahukannya kepada Bung Hatta. Tapi si Bung sudah terlanjur masygul dan langsung menolak untuk menemuinya. "Bagaimana ini? Menurut rencana dia akan datang pukul 10, sekarang telah lewat. Saya tidak akan menerimanya!"
Begitu disampaikan keputusan Bung Hatta yang menolak menerima kedatangannya, si duta besar pun terperanjat. Dia sempat berkilah bahwa sekretarisnya menginformasikan pertemuan akan berlangsung pukul 11. tapi setelah dijelaskan duduk perkaranya, duta besar dan rombongannya pun akhirnya pulang dengan kecewa dan malu.
Di kali lain, Wangsa mengaku pernah kena semprot Bung Hatta karena dinilai tidak cermat menghitung waktu. Hal itu terjadi pada saat melakukan kunjungan ke berbagai daerah di Sulawesi pada 1953. Saat hendak bertolak ke Surabaya dari Gorontalo, Kapten Arifin sebagai ajudan wakil presiden memperkirakan waktu ke datangan pukul 11.00. Ternyata pesawat Catalina yang ditumpangi bergerak lebih cepat, dan tiba di Surabaya pukul 10.00
Kondisi ini membuat panik Gubernur Jawa Timur Samadikun dan para pejabat terkait yang merasa telat menyambut kedatangan wakil presiden. "Bagaimana Bung menghitung waktu? Kenapa baru pukul 10 kita sudah sampai di sini. Lain kali harus lebih teliti menghitung," kata Bung Hatta murka.
Bicara soal disiplin Bung Hatta, tulis Wangsa, sejatinya tak cuma soal waktu tapi lebih luas lagi. Hatta amat juga amat dispilin dalam pergaulan, menjalankan perintah dan larangan agama serta dalam menunaikan tugas-tugasnya. "Bung Hatta itu penuh disiplin antara pikiran, perkataan, dan perbuatan," tulis Wangsa. (jat/erd)










































