Yudik menceritakan tindakan yang dilakukannya telah sesuai dengan prosedur. Ketika melihat ER yang tak berhelm berhenti saat lampu merah, dia segera mendekati ER.
"Saya minta untuk menepi, tapi dia malah membentak. Saya minta surat-suratnya, dia kembali membentak. Daripada macet, kuncinya saya lepas, lalu dia mau menepi, tapi umpatannya keluar semua," kata Yudik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tegar, yang usianya lebih muda, mengaku sempat emosi atas kata-kata kasar ER. "Tapi kita pakai seragam. Kita sadar harus mengedepankan 3S, Senyum, Sapa, Salam. Apalagi Pak Yudik, senior saya, juga mengingatkan agar kalem," ujar Tegar.
Saat menghadapi ER, ada sopir truk yang kebetulan lewat memberi kode bahwa ER memiliki gangguan kejiwaan. "Mungkin tetangganya atau siapa, dia memberi tanda. Kita semakin curiga kalau itu benar," lanjutnya.
Setelah tiga kali mondar-mandir menuntun sepeda motornya untuk meminta kunci, akhirnya ER mau diajak bicara baik-baik. ER kemudian menunjukkan surat keterangan bahwa dia pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta. "Akhirnya kita beri kuncinya," tuturnya.
(try/try)











































