Rumah seharusnya jadi tempat yang nyaman bagi penghuninya. Namun tidak demikian bagi nenek nenek Wahi. Tempat tinggalnya jauh dari kata layak. Ukurannya 2x2 meter. Sempit dan pengap. Satu ruangan digunakan untuk semua: memasak, makan, tidur, dan menyimpan barang.
Dinding dan atap gubuk nenek Wahi terbuat dari seng bekas, lantai tanah, dan tanpa jendela. Hunian tak layak ini berada di RT 5 RW 2, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau usia sudah uzur, nenek Wahi tidak patah arang. Di sisi gubuk tempat tinggal mereka, sang nenek menanam sayuran dalam beberapa bedeng. Hasil bercocok tanam itu menjadi sandarannya untuk menyambung hidup.
"Nenek siram sayur di samping rumah. Nanti kalau sayur bisa dipanen, nenek jual ke rumah-rumah warga. Terus uangnya buat beli beras," ucap nenek Wahi yang ditemui detikcom, Sabtu (11/3/2017).
"Kadang-kadang sayur tidak laku dan kami tidak makan, nenek biasanya menangis karena lihat Yeni lapar. Ya, mau bagaimana lagi? Kalau besoknya ada rezeki, baru kita makan," kata nenek Wahi sembari menitikkan air mata.
Foto: Amar Ola Keda/detikcom |
Ia pun tak berharap yang muluk-muluk, cukup mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan. Meski menderita, nenek tua ini menolak meminta-minta.
"Nenek tidak mau minta apa-apa, nenek malu untuk minta-minta, nenek hanya bekerja dan berdoa saja semoga selalu ada berkat dari Tuhan. Nenek mensyukuri karena Tuhan masih menjaga saya dan anak saya," pungkas nenek Wahi. (try/try)












































Foto: Amar Ola Keda/detikcom