Kesadaran Masyarakat Menyedot Septic Tank Masih Rendah

Bayu Isnanto - detikNews
Sabtu, 11 Mar 2017 16:38 WIB
Foto: Kegiatan membersihkan Monumen Jamban (Bayu Isnanto/detikcom)
Solo - Peringatan hari jadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surakarta menjadi momen untuk menyosialisasikan pentingnya sistem sanitasi. Salah satu rangkaian kegiatannya, belasan karyawan PDAM membersihkan Monumen jamban Ponten Mangkunegara di Ngebrusan, Kestalan, Solo, Sabtu (11/3/2017).

Monumen jamban dahulunya digunakan sebagai toilet umum. Raja Mangkunegaran pada tahun 1936, KGPAA Mangkunegara VII berhasil mengubah kebiasaan masyarakat buang air besar di sungai, menjadi beralih ke toilet umum. Toilet umum tersebut menerapkan sistem sanitasi septic tank.

Pejabat Humas PDAM Surakarta, Bayu Tunggul, mengatakan, septic tank kini sudah digunakan hampir di setiap rumah. Namun kesadaran masyarakat tentang kewajiban menyedot septic tank masih minim.

Kesadaran Masyarakat Menyedot Septic Tank Masih RendahFoto: Kegiatan membersihkan Monumen Jamban (Bayu Isnanto/detikcom)


"Banyak masyarakat punya septic tank, tapi tidak pernah peduli. Saat ditanya sedot terakhir kapan, lubang sedotnya di mana, mereka enggak bisa jawab," katanya.

Padahal, menurutnya, septic tank harus disedot paling lama setiap tiga tahun sekali. "Masyarakat biasanya menganggap septic tank mereka awet, sudah 10 tahun tak disedot tidak masalah. Kalau seperti itu sudah tidak sehat," ungkap dia.

Rencananya, 24 Maret 2017 mendatang, PDAM bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta akan menjalankan program Bedah Septic Tank. Beberapa rumah warga akan dibuatkan septic tank yang sesuai standar, juga dilakukan sedot tinja.

Sosialisasi juga dilakukan dengan pendekatan budaya. PDAM akan menyuguhkan penampilan Keroncong Wayang Gendut, yakni pertunjukan wayang yang dikemas secara kocak. Pesan-pesan mengenai pemanfaatan air akan disampaikan melalui cerita Toya Wening.

"Sekarang orang hanya perhatikan yang diminum, enggak mikir yang dibuang. Padahal yang dibuang itu kembali ke tanah dan diolah kembali oleh PDAM. Misal orang buang air di sungai, nanti bakteri coli kan tinggi. Padahal kotoran yang masuk Bengawan, lalu kita olah di Jurug," kata dia. (hri/hri)