DetikNews
Jumat 10 Maret 2017, 04:06 WIB

Melongok 'Tambang Emas Hijau' dan 'Emas Biru' di Maluku

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Melongok Tambang Emas Hijau dan Emas Biru di Maluku Foto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom
Maluku Tengah - Sejak satu setengah tahun lalu, Pangdam Pattimura Mayjen Dodi Monardo mulai menanam 'emas hijau' dan 'emas biru' di Maluku. Kini apa yang ditanam mulai terlihat dan bahkan siap dituai hasilnya.

Emas hijau itu bukanlah logam mulia berwarna hijau, melainkan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang bernilai ekonomi tinggi. Sedangkan emas biru bukan pula permata, melainkan hasil mengelola budidaya perikanan.

detikcom berkesempatan meninjau langsung lokasi budidaya emas hijau di Makoyonif 731/Kabaresi, di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (9/3/2017) itu bersama Pangdam Pattimura Mayjen Doni Monardo dan rombongan.

Sejumlah pejabat ikut dalam peninjauan ini, antara lain Gubernur Maluku Said Assegaf. Sejumlah kepala daerah di Maluku dan Maluku Utara juga ikut dalam peninjauan ini, termasuk sejumlah stakeholder terkait dari TNI, Polri, kejaksaan, dan jajaran pemda.

Tur yang meninjau lokasi penghijauan ini benar-benar mengasyikkan. Lahan Makoyonif 731/Kabaresi telah benar-benar disulap menjadi kebun raya. Banyak pohon langka ditanam. Juga buah-buahan, seperti jeruk, durian, lemon, dan masih banyak lagi.

Melongok 'Tambang Emas Hijau' dan 'Emas Biru' di MalukuFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom
"Kami melestarikan tumbuhan langka, ada masoya, lingua, palaka, pahara, gaharu, ebone, demikian juga buah-buahan khas, seperti sukun, durian, pala, cengkih, kenari, ada banyak sekali," kata Doni membuka acara peninjauan penghijauan ini.

"Ini adalah sinergitas antara program pemerintah dengan program Mabes TNI untuk membantu pemerintah daerah," imbuh jenderal bintang dua ini.

Doni kemudian berbicara tentang emas biru. Yakni upaya meningkatkan potensi kelautan.

"Hari ini Kementerian Kelautan sudah membuat prediksi produksi 9,9 juta ton per tahun dan dari Maluku 35 persen. Sebanyak 3,4 juta ton, itu data Kementerian Kelautan," papar Doni.

"Kalau ambil USD 3 satu kilo itu sekitar Rp 40 ribu, dikali 3,4 juta ton itu setara dengan Rp 170 triliun, itu lebih besar dari dana sektor pertahanan," sambungnya.

Dalam hal ini, Doni membuat program budidaya ikan karang. Ikan yang dibudidayakan antara lain kerapu, baramundi, dan bubara.

"Harga ikan kerapu bebek di ekspor sudah lebih dari Rp 300 ribu per kg dan harga pasaran kakap putih dan bubara sekitar Rp 50 ribu per kg. Kalau ini kita bisa dibudidayakan nelayan yang 6 bulan menganggur bisa menambah lagi penghasilannya," kata Doni.

"Apalagi wilayah teluk sepanjang tahun bisa dimanfaatkan untuk budidaya karena tidak ada gelombang, tidak ada risiko terhadap keramba yang dipasang. Jadi kita ada jaring apung, jaring tancap, ada juga di livomatola, yaitu keramba teluk. Jadi teluk ujungnya ditutup pakai jaring ada jangka panjang dan pendek," lanjut mantan Danjen Kopassus itu.

Melongok 'Tambang Emas Hijau' dan 'Emas Biru' di MalukuFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom
Doni kemudian mengungkapkan komitmen Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang berjanji menambah kapasitas pembenihan ikan di Maluku dan Maluku Utara. Sehingga nelayan mudah mendapatkan bibit untuk budidaya ikan.

"Jadi kami, TNI AD, khususnya, dan juga AL dan AU dan kepolisian memberikan upaya supaya Maluku dan Maluku Utara bisa jadi contoh. Kalau tingkat kebahagiaan tinggi, kemiskinan tinggi sekarang miskin asal bahagia. Ke depan boleh bahagia tetap kaya raya," urai Doni dengan canda.

Setelah meninjau perkebunan emas hijau, rombongan meninjau peternakan kambing lokal. Rombongan kemudian meninjau lokasi budidaya ikan kerapu di keramba apung. Seperti apa menariknya cerita budidaya emas biru ini, akan ada di tulisan berikutnya.
(van/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed