Rizal Ramli Nasihati Gus Dur-Alwi
Senin, 18 Apr 2005 15:39 WIB
Semarang - Ekonom Rizal Ramli tiba-tiba nongol di arena Muktamar II PKB. Dia menasihati Gus Dur dan Alwi Shihab demi persatuan PKB. Mempan? Rizal yang datang ke hotel Patra Jasa, Semarang, mengaku memiliki hubungan dekat belasan tahun dengan NU dan dengan PKB sejak awal berdiri. Di arena muktamar ini, Rizal mengaku sudah bertemu Gus Dur. "Saya sudah bertemu Gus Dur. Kepada beliau saya mengingatkan agar lebih bijak dan hati-hati mengangkat orang. Banyak orang yang dipercaya dan diangkat Gus Dur untuk posisi penting pada akhirnya berkhianat, seperti kacang lupa kulitnya," kata Rizal kepada wartawan di arena muktamar, Senin (18/4/2005).Rizal juga akan menemui Alwi Shihab. Dia mengaku Alwi merupakan sahabat lama dan akrab. Nasihat bagus untuk Alwi sudah disiapkannya."Saya akan meminta agar Pak Alwi menudahi saja perseteruan ini. Apa pun dia telah diberi kesempatan oleh Gus Dur pula. Sudahlah, akhiri saja," lanjut mantan Menko Perekonomian masa pemerintahan Gus Dur tersebut.Tentang para kandidat ketua umum, Rizal menilai semua calon yang ada memenuhi syarat untuk dipilih. Terlebih kesemua calon adalah kader-kader muda yang memiliki kelebihan masing-masing. Menurut Rizal, PKB ke depan akan menjadi partai besar jika mampu merangkul pemilih pemula yang cukup besar dalam Pemilu lima tahun mendatang.Hal itu, menurut Rizal, dikarenakan sejauh ini PKB memiliki kelebihan sebagai partai yang memiliki warna dan visi kultural dan kerakyatan yang lebih baik dibanding partai lain.Sebagai partai terbuka, kultural dan merakyat maka PKB harus mampu merebut pemilih pemula. Selain itu, kata Rizal, harus mampu merangkul pendukung di uar basis pendukung utamanya di Jawa. "Tapi syaratnya harus lebih dulu mampu merangkul seluruh kekuatan di dalam lebih dulu. Jika semua itu bisa dilakukan, PKB akan menjadi partai besar," paparnya.Rizal juga setuju bila Gus Dur memegang kembali ketua Dewan Syuro. "Tata nilai yang dipakai Gus Dur yag progresif sangat kuat keberpihakannya pada demokratisasi dan kerakyatan. Pemikiran besar harus didukung oleh personalitas dan operasionalitas yang memadai sebagai mesinnya," lanjut Rizal.
(asy/)











































