Giyem (41), seorang petani, mengaku berangkat ke Jakarta dengan seorang rekannya. Mereka berdua turut mengikuti aksi itu guna menyuarakan masalah agraria di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.
"Tanpa ada rakyat kecil, tidak ada pejabat tinggi. Kita harus bersatu!" seru Giyem saat berorasi di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (8/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ibu-ibu Kendeng berjuang mendirikan tenda hampir tiga tahun di tengah hutan untuk memperjuangkan lahan yang akan didirikan pabrik semen oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo," ucapnya.
(Baca juga: Ganjar Antar Izin Lingkungan Pabrik Semen di Rembang ke Jokowi)
Foto: Petani Kendeng Berorasi di kawasan Monas (Galang Aji Putro/detikcom) |
Pada kesempatan itu, dia menyerukan peserta aksi untuk terus bersatu mengawal kinerja pemerintah. Diapun menginginkan agar Jawa Tengah tetap menjadi salah satu pusat pertanian di Indonesia.
"Kita harus perjuangkan hak kita. Hak harus diperhatikan. Rakyat harus bersatu. Jawa Tengah harus dijadikan lumbung Nusantara. Jadi mohon, jangan sampai ada pabrik semen yang berdiri di Kendeng," tegasnya.
(Baca juga: Jalan Panjang Pabrik Semen Rembang Dicabut hingga Diizinkan Operasi)
Sebagaimana diketahui, ada polemik di kawasan pegunungan Kendeng yang meliputi Pati dan Rembang Jawa Tengah. Di kawasan itu, hendak beroperasi pabrik semen. Penolakan muncul dari kaum tani setempat. Gugatan Peninjauan Kembali (PK) dari petani kendeng dikabulkan, yakni dalam putusan PK Mahkamah Agung Nomor 99 PK/TUN/2016 tanggal 5 Oktober 2016.
Namun kabar terbaru, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerbitkan izin untuk PT Semen Indonesia, ditandatangani lewat Keputusan Gubernur Nomor 660.1/6 Tahun 2017 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan dan Pembangunan Pabrik Semen PT Semen Indonesia di Kabupaten Rembang.
(gla/dnu)











































Foto: Petani Kendeng Berorasi di kawasan Monas (Galang Aji Putro/detikcom)