Penangkapan dilakukan terhadap kapal MS Robi Ayu di perairan Tanjung Kampeh Sumsang, Banyuasin, Minggu (5/3/2017) sekitar pukul 16.00 WIB. Petugas Subdit Gakum Ditpolair dan Pangkalan Sanggar Kusang curiga, kemudian melakukan pemeriksaan. Ada 5.000 ketam tapak kuda di kapal yang dinakhodai Saipul (46), warga Sungsang, Banyuasin, itu.
Kapolda Sumatera Selatan Irjen (Pol) Agung Budi Maryoto mengatakan ketam didapat dari nelayan Sungai Sembilang. Saipul membeli dengan harga Rp 5 ribu per ekor untuk ukuran di bawah 5 ons, sedangkan untuk ukuran di atas 5 ons dibeli seharga Rp 15 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom |
Di perairan yang sama, Selasa (7/3), polisi mengamankan kapal Riski Putra, yang dinakhodai Faisal (46), warga Tanjung Jabung Barat, Jambi. Kapal ini juga membawa ketam berjumlah 3.000 ekor.
"Sebanyak 8.000 ekor itu sudah mati. Sementara 57 ekor yang dalam kondisi hidup sudah dilepaskan kembali bersama BKSDA di Perairan Sembilang," ujar mantan Kakorlantas tersebut.
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom |
"Keberadaannya itu sudah semakin terancam, karena terus diburu oleh penduduk lokal untuk kepentingan ekspor, baik di Asia maupun di Eropa. Harga sangat tinggi di sana," ujarnya.
Di Malaysia sendiri, telur tapal kuda dijadikan santapan nikmat dengan harga tinggi. Yakni mencapai Rp 100-500 ribu untuk satu ekor siap saji.
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom |











































Foto: Raja Adil Siregar/detikcom
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom